Tujuh jurus jitu perbankan syari’ah menjadi jawara ASEAN

July 25, 2010 at 7:21 am Leave a comment

Sejak adanya bank syari’ah di Indonesia yang dipelopori oleh bank muamalat pada tahun 1992, bank syari’ah terus tumbuh dan berkembang. Pada awal operasinya bank syariah belum mendapatkan perhatian optimal, saat itu landasan operasi bank hanya dikategorikan sebagai “bank dengan sistem bagi hasil”, Yang tercermin dari UU No. 7 tahun 1992 tanpa rincian usaha syariah serta jenis-jenis usaha yang diperbolehkan. Kondisi mulai berubah pada tahun 1998, ketika pemerintah dan Dewan Perwakilan rakyat melakukan penyempurnaan UU No. 7 tahun 1992 tersebut menjadi UU No. 10 Tahun 1998, yang secara tegas menjelaskan bahwa terdapat dua sistem dalam perbankan di tanah air (dual banking system) yaitu sistem perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah. Kesempatan tersebut disambut hangat oleh kalangan masyarakat, seiring dengan meningkatnya kesadaran dan pemahaman perbankan syariah, berkembang pulalah bank syariah, yang mana sampai tahun 2009 (data BI oktober 2009) telah tercatat Bank Syariah memiliki 3012 jaringan yang terdiri dari: 6 Kantor pusat Bank Umum Syariah yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, Bank BRI Syariah, Bank Bukopin Syariah, dan Bank Panin Syariah. 25 kantor UUS (Unit usaha syariah), 1101 kantor cabang, 1742 office channeling, dan 138 BPRS, serta direncanakan pada tahun 2010 akan berdiri bank umum syariah yang baru yakni BCA Syariah, Bank Jabar Banten Syariah, BNI Syariah dan Victoria Syariah. Walaupun dibandingkan dengan negeri tetangga perkembangannya tidak secepat yang diharapkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan bank syari’ah tumbuh mengesankan. Selain karena faktor demografis Indonesia yang memiliki penduduk sangat besar sekitar 240 juta jiwa dan 80% penduduknya beragama Islam, bank syari’ah juga sudah didukung dengan regulasi yang memadai diantaranya ialah telah disahkannya undang-undang bank syariah, Sukuk atau surat berharga syariah Negara (SBSN) dan penghapusan pajak ganda (double tax) pada transaksi murabahah. Tak salah jika Bank Indonesia dalam Grand Strategi terkait pengembangan pasar perbankan syariah memiliki visi baru pada tahun 2010 untuk menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan Syariah terkemuka di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 81%. Walaupun target pada tahun 2009 dengan visi baru menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN dengan pencapaian target asset sebesar Rp 87triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75% tidak tercapai, sedikit meleset ke angka Rp65-67 triliun dengan pertumbuhan 30% atau sekitar 3% dari total pangsa pasar perbankan nasional, Namun setidaknya harapan untuk menjadikan perbankan syariah terkemuka di ASEAN beberapa tahun mendatang bukan sekedar pepesan kosong. Selain itu, positioning baru khas iB sebagai “beyond banking (lebih dari sekedar bank), yaitu perbankan yang menyediakan produk dan jasa keuangan yang lebih beragam serta didukung oleh skema keuangan yang bervariasi, memberikan citra tersendiri untuk dapat menarik golongan masyarakat yang lebih luas. Untuk itu, diperlukan berbagai langkah pengembangan dalam rangka menopang dan mendongkrak pertumbuhan perbankan syariah secara signifikan, menarik golongan masyarakat lebih luas sesuai dengan target yang diharapkan. Berikut langkah-langkah tersebut:

  1. Penguatan Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia menjadi poin penting dalam pengembangan perbankan Syari’ah. Hal tersebut dikarenakan tantangan perbankan syaria’h ke depan semakin komplek. Apalagi Perbankan syari’ah sudah mempositioning-kan dirinya “lebih dari sekedar bank”. Artinya bank syariah bukan hanya sekedar layanan simpan-menyimpan atau pinjam-meminjam, namun juga mampu menawarkan solusi bagi kebutuhan nasabah dengan menyediakan ragam produk dan jasa keuangan yang didukung dengan skema keuangan yang lebih bervariasi dengan tetap mengedepankan substansi Syar’i. Sehingga dibutuhkan sumberdaya manusia yang memahami konsep Maqashid Syari’ah, transaksi syari’ah dan perilaku syari’ah, namun juga memiliki wawasan luas terhadap produk dan praktek perbankan syari’ah. Sumberdaya yang hanya copy paste dari bank konvensional lalu di edit dengan design syari’ah harus diperkuat dengan landasan yang memadai, sehingga sumberdaya syari’ah dipersiapkan menjadi sumberdaya tangguh yang memahami konsep dan praktek transaksi syari’ah secara komprehensif.

2.Inovasi produk

Inovasi produk mutlak dilakukan agar perbankan syari’ah mampu menggaet berbagai segmen, mampu menyediakan ragam produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, menyediakan produk yang memiliki kesan modern. Prinsip transaksi syari’ah menjadi landasan utama dalam melakukan inovasi produk. Nama Produk perbankan syari’ah tidak harus memakai bahasa arab yang sulit dipahami. Produk yang inovatif, merupakan produk yang mudah dipahami oleh konsumen-nya, memenuhi harapan nasabahnya dan memberikan perspektif baru bagi nasabahnya. Selain itu, produk perbankan syari’ah harus mampu memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan dengan produk perbankan konvensional.

3.Pengembangan infrastruktur Perbankan Syari’ah

Untuk menyajikan produk perbankan syari’ah yang menarik, produk perbankan syari’ah harus didukung dengan infrastruktur yang memadai, seperti: dukungan teknologi informasi dan komunikasi, sumberdaya yang kompeten serta fasilitas dan jaringan yang memadai, sehingga membuat nasabah nyaman dan tentram untuk melakukan transaksi perbankan syari’ah.

4.Program pemasaran terpadu

Saat ini fasilitas, jaringan serta variasi produk perbankan syari’ah sudah tidak kalah dengan bank konvensional, namun kurangnya sosialisasi dan komunikasi pemasaran yang mengena membuat produk-produk dan fasilitas perbankan syari’ah kurang dikenal. Banyak masyarakat yang masih mengira produk perbankan syari’ah hanya berbasis bagi hasil dan bebas riba’, fasilitasnya masih kalah dengan bank konvensional. Padahal, cepatnya perkembangan perbankan syari’ah menuntut para praktisi mengembangkan fasilitas perbankan syari’ah setara dengan bank konvensional bahkan lebih baik. Oleh karena itu, sosialisasi harus lebih ditekankan pada peningkatan citra perbankan baru yakni lebih dari sekedar bank serta luasnya jaringan dan lengkapnya fasilitas. Promosi dan komunikasi harus menjangkau masyarakat lebih luas, terbuka bagi semua segmen masyarakat.

5.Orientasi ke sektor riil

Sinergi terhadap sektor riil merupakan ciri khas berbagai prinsip transaksi syari’ah. Substansi berbagai transaksi mengindikasikan dukungannya terhadap sektor riil. Sehingga porsi terbesar seharusnya dialokasikan untuk sector tersebut. Sebagai sektor yang diharapkan mampu meraup banyak tenaga kerja dan mendorong semangat wirausaha, bukan dialokasikan ke sektor financial ataupun dititipkan ke SBI dengan suku bunga tinggi.

6.Dukungan regulasi yang memadai

Regulasi yang memadai menjadi penting agar akselerasi perbankan syaria’h bisa lebih cepat serta memiliki daya saing tinggi karena dukungan regulasi. Agar produk perbankan syari’ah memiliki legitimasi dan pijakan yang kuat, sehingga bisa meningkatkan daya saing industri perbankan syari’ah yang semakin mendapat tempat di hati masyarakat.

7.Meningkatkan pelayanan dan profesionalisme

Pelayanan yang ramah sangat menentukan pilihan masyarakat dalam memilih bank syari’ah. Isu emosional bahwa bunga bank adalah riba’ sudah tidak bisa lagi dijadikan tameng. Perbankan syaria’h harus mengedepankan layanan prima dan professional pada konsumen. Mengaplikasikan pelayanan perbankan syaria’h dengan dimensi CARTER (Compliance with Islamic Law (ketaatan terhadap syari’ah), Assurance (Jaminan), Reliability (keandalan), Tangible (bukti fisik), Emphaty (empati), dan Resposiveness (tanggap)).

Tentu saja ambisi untuk menjadi jawara ASEAN perlu disiapkan dengan matang, digodok di padepokan perbankan syari’ah dengan sinergi yang kuat berbagai stakeholder perbankan syari’ah. Selain itu, faktor internal ataupun eksternal serta kondisi makro perekonomian juga sangat mempengaruhi keberhasilan tersebut. Sehingga kesiapan dalam menghadapi segala kemungkinan mutlak diperlukan.

Entry filed under: Artikel. Tags: .

Daftar yang terkaya Halal dan Thayyib: Indonesia jadilah produsen, jangan hanya konsumen…!!! (dalam rangka memeriakan The 1st IHBF ( Indonesia International Halal Business and Food Expo ) 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Posting Terbaru

Categories


%d bloggers like this: