Islam Bicara Ekonomi Kerakyatan…?

June 20, 2009 at 3:39 am Leave a comment

Sejak pasangan capres-cawapres mulai mendeklarasikan dirinya, program yang paling mendapat sorotan dari khalayak adalah visi ekonomi. Visi ekonomi pasangan capres-cawapres memiliki porsi besar untuk diperhatikan karena ia menyangkut kesejahteraan suatu negara, kesejahteraan rakyat banyak dan kemandirian bangsa. Pihak-pihak tersebut saling mengklaim bahwa diri mereka memiliki visi ekonomi kerakyatan dan membantah jika disebut mengusung program neoliberalisme, tetapi konsep ekonomi kerakyatan yang seperti apa?detail operasionalnya perlu menunggu penjabaran mereka saat kampanye pemenangan pilpres. Saat ini marilah coba kita telurusi kondisi Indonesia, semuanya mengakui bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumberdaya alam, hutannya menjadi paru-paru dunia, lautan luas membentang dengan kekayaan biota laut yang besar, negara agraris dengan wilayah pertanian yang luas, negara kepulauan dengan kekayaan sumberdaya berlimpah dan beragam. Namun, jika dilihat kondisi ekonominya Indonesia memiliki hutang yang banyak, pengangguran yang besar dan kemiskinan yang belum terselesaikan. Jadi sebenarnya dimanakah kesalahan dari visi yang diusung selama ini? sebuah visi ekonomi yang diharapkan mampu mensejahterakan ekonomi rakyat mengentaskan kemiskinan. Tulisan ini tidak akan bicara mana yang salah ataupun benar, namun hanya sekedar ingin menawarkan sebuah gagasan ekonomi yang terinspirasi dari nilai-nilai islami, barangkali ini menjadi tawaran yang bisa dijadikan solusi bagi permasalahan bangsa yang ingin rakyatnya sejahtera lahir dan batin.

Pertama, membicarakan masalah kemiskinan maka nilai-nilai Islam menganjurkan pelaksanaan mekanisme zakat untuk dioptimalkan distribusinya dalam mengentaskan kemiskinan. dimana jika ditelaah lebih lanjut konsep zakat merupakan sebuah kewajiban bagi muzakki (orang yang mampu menunaikannya). Sifatnya yang obligatory rule membuat pihak berwenang diharuskan mengambil ke rumah bagi yang tidak membayar zakatnya padahal ia mampu. Zakat dikenakan atas pendapatan dan harta yang telah memenuhi syarat. Selain itu mekanisme zakat memiliki kekhususan sistem distribusi dimana proses distribusi tidak ditujukan untuk keperluan lain, hanya yang disebut dalam Al-Qur’an mereka yang disebut Al-asnaf as-tsamaniyah (8 bagian) yang memiliki hak sebagai mustahik (orang yang dikenai zakat) yaitu : faqir, miskin, amil (mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya, Gharimin (orang yang banyak berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya), Fisabilillah (mereka yang berjuang di jalan Allah), Ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal sedang ia dalam perjalanan di jalan kebaikan). Jika kita menela’ah lebih lanjut Indonesia memiliki pontensi zakat yang besar yang belum teroptimalkan, yaitu 19,3 triliun pertahun. Sayangnya, potensi tersebut belum mampu dioptimalkan. Hingga kini, baru sekitar lima persen dari potensi zakat itu yang mampu terjaring Badan Amil Zakat (BAZ) serta Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang tersebar di Tanah Air. Itu artinya, baru sekitar Rp 925 miliar dana zakat setiap tahunnya yang mampu dikumpulkan BAZ dan LAZ di Indonesia (replubika.co.id, 29/04/09). Belum lagi potensi infak, shodaqoh dan wakaf. Wakaf dalam Islam adalah sebuah sistem yang memiliki keunikannya sendiri, nilai pokok wakaf tidak boleh habis seperti halnya zakat, infaq ataupun shodaqoh. Sehingga nilai wakaf akan selalu bertambah. Menurut Mustafa Edwin, Ketua Pasca Sarjana Ekonomi Syariah UI, potensi wakaf tunai di Indonesia diperkirakan bisa mencapai Rp 3 triliun sampai Rp 4 triliun per tahun. potensi wakaf tersebut tidak habis dan akan terus bertambah. Jika tahun ini bisa mendapatkan ada Rp 3 triliun, maka mungkin lima tahun kemudian meningkat sampai mencapai Rp 15 triliun, dan terus akan meningkat seiring kesadaran masyarakat dalam mewakafkan hak miliknya. Sebuah potensi yang luar biasa untuk mengentaskan kemiskinan. Dimana harta wakaf tersebut bisa digunakan untuk investasi jangka panjang seperti membangun sekolah gratis, rumah sakit gratis, peningkatan standar hidup hunian kumuh, membantu pendidikan anak yatim piatu, menciptakan lapangan kerja yang penting untuk menghapus kemiskinan dan lain sebagainya. Bahkan di beberapa negara sudah menerapkan wakaf produktif dengan menggandeng investor-investor untuk sebuah usaha yang produktif. Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja perlu dioptimalkan apalagi disentralisasikan secara langsung oleh pihak pemerintah menjadi sebuah kebijakan, maka akan menjadi kekuatan yang besar dalam mengentaskan kemiskinan.

Kedua, membicarakan masalah sumberdaya alam, Indonesia memiliki potensi minyak, gas, dan sumberdaya tambang lain yang besar, Rosulullah saw bersabda : rakyat berserikat dalam tiga hal : air, api, dan udara. Hadits ini mengisyaratkan bahwa pemiliki kekayaan alam sebenarnya adalah rakyat. Nah, seharusnya air yang turun dari langit dan terpancar dari bumi, segala sumberdaya yang menghasilkan api seperti minyak, gas dan bahan tambang lainnya serta segala sesuatu yang memanfaatkan udara seperti gelombang untuk telekomunikasi dikelola oleh negara dengan harga yang semurah-murahnya. bidang-bidang tersebut sepenuhnya harus dikelola oleh pemerintah, serta membuat bidang-bidang tersebut perusahaan BUMN yang dikelola secara profesional, transparan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat banyak. Disini seharusnya sektor-sektor tersebut tidak selayaknya diprivatisasi jika terjadi pembagian saham, maka saham pemerintah tetap harus lebih besar, agar kebijakan yang diambil oleh pemegang saham diprioritaskan untuk keuntungan rakyat dan bukan untuk keuntungan individu. Indonesia memiliki cadangan minyak yang besar, namun selama ini hampir semua sumur minyak di Indonesia di kuasai oleh korporasi minyak asing yang merupakan perusahaan multinasioanal, selebihnya dikelola oleh Pertamina dan sedikit pengusaha nasional dalam skala kecil. Dibidang pertambangan Indonesia juga merupakan negara kaya, memiliki cadangan emas yang banyak, timah yang berlimpah dan bahan tambang lainnya. Namun lagi-lagi kebanyakan perusahaan tambang dikuasai asing. Indonesia hanya mendapatkan pajak dan royalti yang sangat sedikit dibandingkan penghasilan besar berkalilipat yang perusahaan asing peroleh. Sepatutnya pemimpin-pemimpin negeri ini merefleksikan kembali apa yang dilakukan oleh Rosulullah saw sebagaimana dikemukakan oleh An-Nabhani berdasarkan pada hadis riwayat Imam at-Turmidzi dari Abyadh bin Hamal. Dalam hadis itu, disebutkan bahwa Abyad pernah meminta kepada rasul untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul meluluskan permintaan itu, tetapi segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (ma’u al-‘iddu).” Rasulullah kemudian bersabda, “Tariklah tambang tersebut darinya.”


Ketiga, Dalam sektor keuangan Islam menganjurkan untuk menghindari riba’ dan menganjurkan jual beli. Yang berarti bahwa sektor riil lebih dianjurkan dalam Islam. Hal ini juga ditunjukkan dalam berbagai sistem transaksinya seperti mudharabah, musharakah, murabahah, ba’i al-istishna’ dan lain sebagainya yang menyaratkan adanya dua orang yang bersepakat untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan, proyek ataupun bisnis tertentu serta mengharuskan adanya barang yang akan dijadikan sebagai objek transaksi. Hal ini memungkinkan terhindarnya transaksi spekulatif dari berbagai transaksi derivatif yang memunculkan bubble economy, sebuah sistem yang dirasakan kelemahannya saat ini, saat terjadi krisis global. Sebuah fakta yang mencengangkan dari sistem ribawi adalah bahwa transaksi riil ternyata lebih kecil dimana nilainya sekitar 50 milliar dolar dibandingkan dengan transaksi keuangan, perdagangan kertas yang nilai transaksinya mencapai 600 milliar dolar. Islam menjadikan uang bukan komoditas, namun uang adalah alat tukar dan penambah nilai yang tidak bisa diperdagangkan. Sektor finansial harus lebih bersinergi dengan sektor riil. Islam melarang merebaknya riba’, lebih menganjurkan jual beli dan menganjurkan loss and profit-sharing dalam transaksinya.

Keempat, masalah pengangguran menjadi perhatian yang besar dalam Islam sebuah kisah dari Rosulullah saw bisa dijadikan inspirasi dalam membuat kebijakan, Diceritakan oleh Anas radhiyallohu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki Anshar mendatangi Rosulullah saw kemudian meminta sesuatu kepada beliau. Maka Rosulullah berkata :”Adakah di rumah Tuan sesuatu? “ lelaki Anshar itu menjawab : “Ya, masih ada hils (pakaian tebal), sebagian kami pakai dan yang lain kami gunakan untuk tikar, serta satu buah bejana untuk minum”. Rasulullah lalu berkata lagi, “berikan barang-barang itu kepadaku!”. Maka kedua barang tersebut diambilnya lalu diberikan kepada Rosulullah. Kemudian Rosulullah saw mengambil kedua barang tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil berkata, “siapa yang mau membeli barang ini?”seorang laki-laki menjawab, “saya yang membelinya dengan harga dua dirham”. Maka kemudian kedua barang itu diberikan kepada lelaki tersebut, sementara Nabi menerima dua dirham tersebut lalu memberikan kepada lelaki Anshar itu sambil berkata,”yang satu dirham belikanlah makanan dan bagikanlah kepada keluargamu, sedangkan yang satu dirham lagi belikan kapak lalu datanglah kemari! Kemudian (lelaki itu membeli kapak) dengan membawa kapaknya lelaki itu datanglah menemui Rasulullah. Beliau mengambil sebilah kayu dan beliau sendiri membuatkan tangkai kapaknya dan kemudian menyerahkan kepada lelaki Anshar itu sambil berkata, “Pergilah mencari kayu bakar dan juallah. Aku tidak ingin melihatmu selama lima belas hari” lelaki Anshar itu benar-benar melaksanakannya dan baru kembali menemui Rasulullah setelah memperoleh sepuluh dirham. Uang itu sebagian untuk membeli pakaian dan sebagian lagi untuk membeli makanan. Kemudian Rasulullah berkata, “Ini lebih baik bagimu daripada engkau datang meminta-minta, yang akan mendatangkan titik hitam di wajahmu pada hari kiamat”.

Kisah ini memberikan pelajaran pada kita bahwa untuk menyelesaikan pengangguran diperlukan inisiatif dari para pemimpin untuk mencoba memberikan fasilitas yang mampu menghasilkan kail-kail bukan sekedar ikan, tapi kail untuk memancing ikan yang lebih banyak bahkan lebih besar. Berikanlah kepada rakyat-rakyat yang menganggur suatu alat, modal usaha, barang untuk diusahakan yang dapat dikelola dan dikembangkan dengan bimbingan dan pelatihan memadai. Pelatihan berupa ketrampilan tertentu, manajemen pengelolaan serta pemasaran untuk meningkatkan kualitas produksinya. Daripada sekedar memberikan ikan hasil pancingan yang cepat habis termakan. Maka pemberian fasilitas produktif, penyediaan lapangan kerja yang menyerap tenaga yang banyak lebih diutamakan.

Kelima, Tentang utang, Rosulullah saw sangat berhati-hati dengan utang bahkan Rosulullah sendiri sebagai pemimpin saat itu menjamin rakyatnya yang berutang untuk ia lunasi saat meninggalnya. Karena utang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Islam tidak melarang berhutang, berhutang dilakukan ketika menghadapi kesulitan ekonomi yang tidak terelakkan, namun transaksi hutang bukanlah transaksi bisnis, dalam islam dikenal dengan transaksi tabarru’, sehingga diusahakan berhutang dari sumber-sumber yang terbebas dari nilai-nilai ribawi. Dalam Konteks Indonesia utang yang menggunung ini diakibatkan hutang yang mengandung nilai riba, dimana sistem ekonomi hutang ribawi ini mengharuskan negara penghutang untuk membayar hutangnya ditambah bunga hutang pada saat jatuh tempo dalam keadaan apapun, apakah pinjaman mereka menguntungkan atau tidak. Kewajiban membayar hutang ini jelas akan menurunkan nilai Rupiah akibat keharusan kita untuk membayar hutang dalam bentuk nilai mata uang asing. Ketidakmampuan untuk membayar hutang ketika jatuh tempo akan menyebabkan bunga hutang akan semakin membengkak dari waktu ke waktu, apalagi pemerintah harus membayar bunga atas bunga (interest on interest) yang belum terlunasi. Apalagi jika pinjaman yang kadang dibahasakan dengan istilah “bantuan” ini digunakan untuk membiayai sektor-sektor non-produktif ataupun terjadi kebocoran akibat praktek kolusi dan korupsi, jelas utangnya akan semakin bertambah. Lebih ironis lagi jika bantuan luar negeri ini dijadikan sebagai senjata politik untuk mengintervensi kebijakan politik negara-negara pemberi utang untuk mencapai tujuan mereka. Maka, utang yang memiliki motif seperti ini harus dihindari. Indonesia memiliki potensi besar untuk tidak berhutang asal kita semua berusaha, bahu-membahu untuk berpikir memanfaatkan sumber daya alam Indonesia pada hal-hal yang lebih produktif.

Itulah sedikit dari beberapa poin penting yang terinspirasi nilai-nilai Islam. Terlepas dari apapun nama sistem ekonominya yang jelas inspirasi dari Islam perlu dipertimbangkan dan dikaji lebih lanjut sebagai upaya dan langkah maju untuk mensejahterakan rakyat.

Entry filed under: Artikel. Tags: .

Desa Daftar yang terkaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Posting Terbaru

Categories


%d bloggers like this: