Review buku:”Orang miskin dilarang Sekolah”

June 23, 2008 at 3:35 pm Leave a comment

Judul : Orang miskin dilarang sekolah

penulis : Eko Prasetyo

Penerbit : Resist Book

Hal : 255 hal.

Buku yang oleh penulisnya didedikasikan untuk mereka yang selama ini menjadi korban pendidikan ini mengupas habis tentang mahalnya pendidikan di negeri ini. Ternyata mencari sekolah murah apalagi berkualitas di negeri ini cukup susah. Dari sejak TK, SD, SMP, SMP hingga perguruan tinggi semua dikenakan biaya dengan beban yang cukup besar, mulai dari iuran sekolah, seragam, buku-buku, dan iuran lainnya. Hal ini menyebabkan hanya yang kaya saja yang memiliki kesempatan untuk pintar dalam mengenyam pendidikan. Tak hanya itu, karena pengambil kebijakan tidak sensitif untuk segera merespon mahalnya biaya pendidikan banyak sekolah-sekolah yang diswastanisasi karena malasnya pemerintah mengambil peran. Hal ini dibuktikan dengan anggaran pertahanan yang lebih besar daripada anggaran pendidikan. Seakan kembali ke jaman rimba yang kuat yang menang. Yang bermodal yang pinter. Selain dipicu oleh kurang responsifnya pengambil kebijakan juga dipengaruhi oleh sistem ekonomi global yang telah mendominasi yaitu Kapitalisme.

Kapitalisme dengan konsep ekonomi liberalnya ingin menyebarkan sistemnya dengan instrumen pentingnya yaitu perdagangan bebas yang harus diterapkan oleh semua negara tak terkecuali negara berkembang, yang dikomandai oleh rezim WTO. Sistem ini telah memaksa sebuah negara untuk mencabut subsidinya yang memiliki tujuan perlindungan dan membuka pasar sebebas-bebasnya termasuk sektor publik yang seharusnya dikuasai pemerintah melalui privatisasi yang dijalankannya. Setelah itu pemerintah dijadikan sebagai robot yang sepenuhnya menjamin berjalannya sistem ekonomi pasar. Dan selanjutnya didoronglah proses wirausaha dengan menjamin karya inovatif memiliki perlindungan hukum yang kuat yang sekarang dikenal dengan istilah hak cipta atau hak atas kekayaan intelektual. Karya tersebut akhirnya memiliki nilai jual yang tinggi yang tak mampu lagi dibeli orang yang tak punya nyali karena kehabisan nasi. Rezim neoliberalisme telah menempatkan pengetahuan sebagai modal, dengan kekuatan globalnya yang membuat institusi pendidikan tak lagi mudah mengakses karya intelektual karena harus membeli hak cipta terlebih dahulu yang tentunya mahal.

Karena dasar dari proses pendidikan berbiaya mahal maka sekeluarnya nanti dari sekolah juga harus mampu mengembalikan modal yang telah digunakan untuk biaya sekolah. Akhirnya sekolah dinilai berdasarkan ekonomi, berdasarkan untung rugi. Hanya yang memiliki modal yang bisa mengecap sekolah dan yang tak memiliki modal hanya mampu menatapnya. Lagi-lagi orang miskin tersiksa di negeri sendiri, hanya menjadi korban mahalnya biaya pendidikan.

Selain itu sekolah juga dimanfaatkan sebagai sasaran para pengusaha, selain mengintervensi sekolah untuk memasukkan kurikulum yang cocok dan tepat bagi kepentingan dunia usaha juga ada yang secara khusus memanfaatkan untuk menjadi pemasok bagi kebutuhan sekolah mulai dari buku, seragam hingga peralatan lainnya. Sekolah sudah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Maka, tak salah jika sekolah yang sudah terasah dibawah kuasa modal ini hanya menghasilkan lulusan-lulusan yang hanya bisa melalukan kekerasan dengan teman-temannya ataupun lingkungannya dan memunculkan banyak pengangguran bahkan sekolah mampu meluluskan penjahat dan juga koruptor. Begitulah buku banyak bercerita, ia meneriakkan kembali suara protes untuk mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang bobrok menghasilkan lululan yang juga bobrok lemah dan tak bermoral.

Buku ini tidak hanya asal menghujat mahalnya pendidikan, namun juga dilengkapi dengan data-data konkrit dan berita-berita nyata sekaligus dilengkapi dengan ilustrasi komik yang menarik menjadikan buku ini layak dijadikan referensi sebagai bahan renungan bagi para pengambil kebijakan, para pendidik, calon dan semuannya yang menginginkan negeri ini menelurkan sumberdaya berkualitas dan cerdas. Akhirnya buku ini meneriakkan kembali sebuah jalan bahwa sekolah harus murah dan juga membangkitkan kembali sebuah mimpi sekolah ideal bahwa peran guru dalam sekolah bukan hanya sebagai figur yang memberi suapan-suapan pelajaran melainkan juga teman yang menemani suka-duka kehidupan seorang murid.

Pendidikan berhasil kalau orang menjadi senang mempergunakan otaknya (Jaques Barzun)

Tugas pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka (Malcolm Forbes)

by: Wan’s

Entry filed under: Review buku. Tags: .

Antara modal usaha, jalannya sistem bunga dan prospek bagi hasil Pandangan Kwik Kian Gie, Soal Korupsi dan Utang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Posting Terbaru

Categories


%d bloggers like this: