Posts filed under ‘Review buku’
Review buku : Orang kaya di negeri miskin
Judul : Orang Kaya di Negeri Miskin
Penulis : Eko Prasetyo
Ilustrator : Eko Nugroho
Penerbit : Resist book,
Tahun terbit : 2005
Tebal : 172 hal.
Yang terbetik setelah membaca buku ini adalah “aneh tapi nyata”. Aneh karena ternyata di negeri miskin sebagaimana tersebut dalam buku ini kehidupan hewan lebih dihargai daripada kehidupan manusia. Sebagai contoh burung yang memiliki kicau indah, bisa dihargai puluhan juta bahkan milliar (hal. 74). Kucing ataupun anjing santapan tiap harinya adalah susu dan daging, dan tentunya makanan untuk kucing ataupun anjing kesayangan berharga mahal. Sementara itu manusia miskin lebih banyak digusur, lebih banyak ditindas, tak diperhatikan dan tak berharga. Di negeri ini memang hidup kadang tak adil. Negeri ini telah larut dalam sistem ekonomi pasar yang mengedepankan kebijakan ekonomi neo liberal yang tidak hanya membuat layanan publik menjadi mahal dan privatisasi aset-aset negara, namun juga menghasilkan orang miskin. Sistem ini telah menebar jumlah orang miskin dan melambungkan sejumlah kecil orang untuk menjadi kaya dan hidup secara berlebihan.
Buku ini dilengkapi ilustrasi menarik, mengungkapkan keanehan-keanehan ini. Lihatlah sebagaimana diungkapkan buku ini selain investasi salah sasaran melalui perbankan di era orde baru, juga terjadi exploitasi sumberdaya alam di kawasan yang memiliki sumber daya kaya, namun terjadi pemasungan hak-hak ekonomi penduduk lokal dan terjadi perampasan semena-mena terhadap lingkungannya. Orang kaya di negeri ini memang selalu beruntung. Ia kuat karena dikokohkan oleh sistem ekonomi pasar dengan konsep ekonomi liberalnya menguasai aset pemerintah dan hajat hidup orang banyak untuk diperjualbelikan mengakkumulasi laba. Orang kaya juga tak terpengaruh dengan kebijakan kenaikan harga bahan-bahan pokok bahkan ia bisa mempengaruhi kebijakan serta memperoleh kekayaan dengan cukup mudah dan bergaya serba mewah.
Perbedaan kehidupan para kaya dengan para papa sangat kontras. Orang kaya di negeri ini bisa membeli produk keluaran terbaru yang dipamerkan di negeri ini, bisa membeli motor-motor besar, dengan cekatan akan berlomba untuk mendapatkan tiket paling depan pertunjukan mobil atau konser, dengan mudah bergonta ganti baju dengan desain yang modern, dengan nyaman bisa memakan makanan ataupun meminum minuman yang harganya satu bulan orang miskin ketika makan, dengan mudah bisa berpiknik atau berobat ke luar negeri, dengan senang bisa mengkoleksi hewan piaraan kesayangan, bunga indah, dan barang antik lainnya dengan harga puluhan juta bahkan ratusan jutaan.
Bisa sedot lemak, bisa pedicure-menicure, Bahkan orang yang disebut profesional baik penyanyi, pelawak, pembawa acara ataupun profesi lainnya karena efek pencitraan yang diciptakan media dengan mudah dalam satu kali acara dapat meraup uang jutaan sementara orang miskin di negeri ini sekeras apapun bekerja tetap tak dapat bermimpi sebagaimana orang kaya bahkan mimpinya selalu terganggu karena lapar, karena tergusur dari kebijakan tata kota yang tidak memihak orang miskin. Orang miskin selalu sengsara, selalu tertimpa tangga dari salahnya kebijakan pembuangan sampah, ia bisa tertimbun sampah. Dari korupsi para pejabat tinggi ia tak dapat membeli nasi. Ironisnya ia tak mengerti hanya mampu mengagumi. Dari salahnya kebijakan tata impor bahan pokok yang liberal produk yang ditanam di negeri sendiri tak laku mereka jual, hanya dihargai dengan harga rendah. Begitulah nasib orang miskin dan kaya di negeri ini, untuk semakin dapat mendalami kehidupan di negeri ini lebih baiknya anda membaca buku yang ditulis oleh Eko Prasetyo ini dan jika ingin lebih kaya pemahamannya tentang kemiskinan anda dapat membaca buku lainnya yang telah ia tulis tentang trilogi orang miskin. Selamat membaca dan menjadi kaya pemahamannya tentang orang miskin dan orang kaya. Untuk ketika kita kelak jadi kaya tidak melupakan orang miskin sebagai bagian dari hidup kita untuk kita berbagi.
Tidak akan tersucikan suatu umat selama si lemah tidak dapat menuntut dan memperoleh haknya dari si kuat tanpa rasa takut dan cemas (Nabi Muhammad Saw).
by : Wan’s
Review buku:”Orang miskin dilarang Sekolah”
Judul : Orang miskin dilarang sekolah
penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book
Hal : 255 hal.
Buku yang oleh penulisnya didedikasikan untuk mereka yang selama ini menjadi korban pendidikan ini mengupas habis tentang mahalnya pendidikan di negeri ini. Ternyata mencari sekolah murah apalagi berkualitas di negeri ini cukup susah. Dari sejak TK, SD, SMP, SMP hingga perguruan tinggi semua dikenakan biaya dengan beban yang cukup besar, mulai dari iuran sekolah, seragam, buku-buku, dan iuran lainnya. Hal ini menyebabkan hanya yang kaya saja yang memiliki kesempatan untuk pintar dalam mengenyam pendidikan. Tak hanya itu, karena pengambil kebijakan tidak sensitif untuk segera merespon mahalnya biaya pendidikan banyak sekolah-sekolah yang diswastanisasi karena malasnya pemerintah mengambil peran. Hal ini dibuktikan dengan anggaran pertahanan yang lebih besar daripada anggaran pendidikan. Seakan kembali ke jaman rimba yang kuat yang menang. Yang bermodal yang pinter. Selain dipicu oleh kurang responsifnya pengambil kebijakan juga dipengaruhi oleh sistem ekonomi global yang telah mendominasi yaitu Kapitalisme.
Kapitalisme dengan konsep ekonomi liberalnya ingin menyebarkan sistemnya dengan instrumen pentingnya yaitu perdagangan bebas yang harus diterapkan oleh semua negara tak terkecuali negara berkembang, yang dikomandai oleh rezim WTO. Sistem ini telah memaksa sebuah negara untuk mencabut subsidinya yang memiliki tujuan perlindungan dan membuka pasar sebebas-bebasnya termasuk sektor publik yang seharusnya dikuasai pemerintah melalui privatisasi yang dijalankannya. Setelah itu pemerintah dijadikan sebagai robot yang sepenuhnya menjamin berjalannya sistem ekonomi pasar. Dan selanjutnya didoronglah proses wirausaha dengan menjamin karya inovatif memiliki perlindungan hukum yang kuat yang sekarang dikenal dengan istilah hak cipta atau hak atas kekayaan intelektual. Karya tersebut akhirnya memiliki nilai jual yang tinggi yang tak mampu lagi dibeli orang yang tak punya nyali karena kehabisan nasi. Rezim neoliberalisme telah menempatkan pengetahuan sebagai modal, dengan kekuatan globalnya yang membuat institusi pendidikan tak lagi mudah mengakses karya intelektual karena harus membeli hak cipta terlebih dahulu yang tentunya mahal.
Karena dasar dari proses pendidikan berbiaya mahal maka sekeluarnya nanti dari sekolah juga harus mampu mengembalikan modal yang telah digunakan untuk biaya sekolah. Akhirnya sekolah dinilai berdasarkan ekonomi, berdasarkan untung rugi. Hanya yang memiliki modal yang bisa mengecap sekolah dan yang tak memiliki modal hanya mampu menatapnya. Lagi-lagi orang miskin tersiksa di negeri sendiri, hanya menjadi korban mahalnya biaya pendidikan.
Selain itu sekolah juga dimanfaatkan sebagai sasaran para pengusaha, selain mengintervensi sekolah untuk memasukkan kurikulum yang cocok dan tepat bagi kepentingan dunia usaha juga ada yang secara khusus memanfaatkan untuk menjadi pemasok bagi kebutuhan sekolah mulai dari buku, seragam hingga peralatan lainnya. Sekolah sudah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Maka, tak salah jika sekolah yang sudah terasah dibawah kuasa modal ini hanya menghasilkan lulusan-lulusan yang hanya bisa melalukan kekerasan dengan teman-temannya ataupun lingkungannya dan memunculkan banyak pengangguran bahkan sekolah mampu meluluskan penjahat dan juga koruptor. Begitulah buku banyak bercerita, ia meneriakkan kembali suara protes untuk mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang bobrok menghasilkan lululan yang juga bobrok lemah dan tak bermoral.
Buku ini tidak hanya asal menghujat mahalnya pendidikan, namun juga dilengkapi dengan data-data konkrit dan berita-berita nyata sekaligus dilengkapi dengan ilustrasi komik yang menarik menjadikan buku ini layak dijadikan referensi sebagai bahan renungan bagi para pengambil kebijakan, para pendidik, calon dan semuannya yang menginginkan negeri ini menelurkan sumberdaya berkualitas dan cerdas. Akhirnya buku ini meneriakkan kembali sebuah jalan bahwa sekolah harus murah dan juga membangkitkan kembali sebuah mimpi sekolah ideal bahwa peran guru dalam sekolah bukan hanya sebagai figur yang memberi suapan-suapan pelajaran melainkan juga teman yang menemani suka-duka kehidupan seorang murid.
Pendidikan berhasil kalau orang menjadi senang mempergunakan otaknya (Jaques Barzun)
Tugas pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka (Malcolm Forbes)
by: Wan’s

Recent Comments