Posts filed under ‘Artikel’

Halal dan Thayyib: Indonesia jadilah produsen, jangan hanya konsumen…!!! (dalam rangka memeriakan The 1st IHBF ( Indonesia International Halal Business and Food Expo ) 2010)

By: Wan’s

Beberapa dekade ini, kata halal menjadi suatu hal yang patut diperhatikan dalam industri yang mencakup berbagai bidang makanan, minuman, obat-obatan serta kosmetika. Ia merupakan komponen inti menyangkut bahan baku, proses produksi, proses pengadaan dan packaging sebuah produk. Halal menjadi potensi, peluang sekaligus tantangan bagi kalangan pebisnis untuk meningkatkan kualitas produknya dengan berbasis pada kehalalan sebuah produk. Tak dapat dipungkiri bahwa ada berbagai aspek dalam perilaku konsumen yang mempengaruhi perilaku pembelian. Nah, Bagi umat Islam aspek Halal memiliki pengaruh besar bagi pengambilan keputusan pembelian dan perilaku pembelian. Ia bukan hanya sekedar symbol agama dan bersifat normative, namun saat ini halal sudah menjadi symbol bagi jaminan kualitas, keamanan dan higienitas.

Industri halal saat ini telah berkembang seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi produk-produk halal. Hingga akhir tahun 2009 pasar produk halal dunia meningkat naik 9,3 persen atau 54 milliar dolar menjadi 634 milliar dolar AS dari sekitar 1,8 milliar penduduk muslim di seluruh dunia1. Pasar terbesar masih didominasi oleh pasar Asia dimana di Asia tenggara kebanyakan penduduknya adalah Muslim. Dinegara Asia, seperti Indonesia, China, Pakistan dan India, rata-rata tumbuh sekitar tujuh persen per tahun dan diperkirakan mencapai dua kali lipat dalam 10 tahun ke depan, Indonesia sendiri diperkirakan akan terjadi penambahan permintaan produk makanan daging halal mencapai 1,3 juta metrik ton setahunnya. Sedangkan negara Asia lainnya bisa mencapai dua juta metrik ton setahunnya. Sayangnya industri di Indonesia masih banyak yang belum bersertifikasi halal. Misalnya, dari data Perkosmi (Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia) jumlah perusahaan kosmetika dan toiletries di Indonesia berjumlah 744, tetapi menurut LPPOM MUI yang bersertifikat halal baru 23 perusahaan (3 persen). Artinya, 97 persen produk kosmetika yang beredar di pasaran tidak jelas kehalalannya. Dari Data BPS (2006), industri pangan skala besar, sedang, kecil, dan rumah tangga sebanyak 1.209.172. Namun, menurut LPPOM MUI baru tersertifikasi halal 874 usaha (0.070 persen)2.

Lebih ironis lagi, Indonesia selalu dijadikan sasaran tembak bagi pasar produk halal dunia. Tidak dipungkiri, karena memang Indonesia memiliki jumlah penduduk mayoritas muslim terbesar. Sehingga dalam berbagai forum, sering Indonesia di sebut sebagai “The Largest Market” pasar terbesar. Banggakah kita selalu disebut sebagai pasar terbesar? Itu artinya bahwa kita selalu mengkonsumsi, mengeluarkan pengeluaran dan jarang menghasilkan. Apalagi Indonesia sudah mulai besar pasak daripada tiang. Menurut Direktur Eksekutif Aspidi (Asosiasi Pengusaha Importir daging Indonesia) (24 Juli 2010), Indonesia merupakan pangsa pasar potensial bagi impor produk daging halal. Pasalnya lebih lanjut menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Tetapi pasokan daging dari industri peternakan dalam negeri belum dapat memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional. Nah, jika Indonesia tidak segera berubah, meningkatkan kemampuanya bertransformasi ke arah produsen produk halal, jelas Indonesia akan sangat berat bersaing dengan negara lain dalam pengembangan Industri halalnya. Indonesia akan kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia yang sudah mencitrakan dirinya menjadi halal hub produk halal dunia. Bahkan Indonesia akan kalah bersaing dengan negara yang minoritasnya muslim seperti Amerika serikat, Australia, kanada, selandia baru, Irlandia ataupun Brasil yang akan mengekspor daging halalnya ke Indonesia karena beberapa lembaganya sudah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.

Apakah Indonesia tidak mampu? Tentu mampu. Tetapi butuh komitmen dari berbagai pihak dalam pengembangan Industri halal ini. Indonesia sendiri dengan penduduk muslimnya yang cukup besar yakni sekitar 195,272 juta jiwa pada tahun 2009 atau sekitar 88% populasi penduduk, serta melimpahnya potensi sumber daya manusia yang memiliki kredibilitas dan diakui dunia internasional, dengan kapasitas pakar sains dan teknologi, serta para ulama yang mumpuni, pasti mampu untuk mewujudkan iklim industri halal yang menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, bahkan bukan hanya mampu swasembada produk halal, namun juga mengekspornya ke negara lain. Indonesia cukup memiliki perangkat memadai seperti MUI (majlis ulama’ Indonesia), LPPOM MUI (lembaga pengkajian pangan, obat-obatan dan makanan MUI) serta BPOM (Badan pengawas obat dan makanan) yang didukung oleh potensi melimpahnya sumberdaya alam merupakan modal besar yang perlu dioptimalkan agar Indonesia tidak hanya jadi penonton, penikmat tapi juga pemain.

Potensi besar tersebut tidak akan tergali secara optimal, jika berbagai pihak tidak menyamakan persepsi dan menyatukan kekuatan sebagai bagian dari upaya pengembangan industri halal tersebut. Dalam hal ini semuanya harus menyatukan kekuatan, bersinergi baik itu pemerintah sebagai pembuat regulasi, ulama’ sebagai motor penggerak produk halal, pebisnis sebagai penyedia produk halal serta konsumen yang memiliki kesadaran untuk mengkonsumsi produk halal. Sehingga perlu dilakukan edukasi menyeluruh untuk memahamkan konsep halal, proses produksi halal dan pengolahannya serta pola konsumsi, karena Halal jauh sebelum industri ini berkembang sudah menjadi kewajiban muslim untuk memperhatikannya sebagai bagian dari agama mereka, sehingga inti dari penyediaan produk halal juga bukan semata bisnis tapi yang lebih penting lagi adalah upaya menciptakan ketentraman umat dalam berkonsumsi, dan jika timbul multiple effect dari industri sebagai bagian dari potensi besar dalam bisnis, maka itu merupakan bagian dari keberkahan dan karunia yang Allah berikan untuk kemakmuran manusia, tentunya bagi yang mau berfikir. Semoga dengan diadakanya perhelatan akbar The 1st IHBF 2010 (Indonesia International Halal Business and Food Expo 2010) yang diselenggarakan tanggal 23-25 Juli 2010 di Jakarta semakin mengukuhkan Indonesia sebagai produsen produk halal, bukan hanya sekedar konsumen.

1 republikaonline, 2009, Pasar Halal Dunia capai 634 milliar dolar, http://www.republika.co.id/ Pasar_Halal_Dunia_Capai_634_Miliar_Dolar.htm, dipublikasikan 4 mei 2009

2 Republika online, 2008, Indonesia menjadi pusat halal dunia, http://www.republika.co.id/ Indonesia_Menjadi_Pusat_Halal_Dunia.htm, dipublikasikan 28 Desember 2008

July 25, 2010 at 8:10 am Leave a comment

Tujuh jurus jitu perbankan syari’ah menjadi jawara ASEAN

Sejak adanya bank syari’ah di Indonesia yang dipelopori oleh bank muamalat pada tahun 1992, bank syari’ah terus tumbuh dan berkembang. Pada awal operasinya bank syariah belum mendapatkan perhatian optimal, saat itu landasan operasi bank hanya dikategorikan sebagai “bank dengan sistem bagi hasil”, Yang tercermin dari UU No. 7 tahun 1992 tanpa rincian usaha syariah serta jenis-jenis usaha yang diperbolehkan. Kondisi mulai berubah pada tahun 1998, ketika pemerintah dan Dewan Perwakilan rakyat melakukan penyempurnaan UU No. 7 tahun 1992 tersebut menjadi UU No. 10 Tahun 1998, yang secara tegas menjelaskan bahwa terdapat dua sistem dalam perbankan di tanah air (dual banking system) yaitu sistem perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah. Kesempatan tersebut disambut hangat oleh kalangan masyarakat, seiring dengan meningkatnya kesadaran dan pemahaman perbankan syariah, berkembang pulalah bank syariah, yang mana sampai tahun 2009 (data BI oktober 2009) telah tercatat Bank Syariah memiliki 3012 jaringan yang terdiri dari: 6 Kantor pusat Bank Umum Syariah yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, Bank BRI Syariah, Bank Bukopin Syariah, dan Bank Panin Syariah. 25 kantor UUS (Unit usaha syariah), 1101 kantor cabang, 1742 office channeling, dan 138 BPRS, serta direncanakan pada tahun 2010 akan berdiri bank umum syariah yang baru yakni BCA Syariah, Bank Jabar Banten Syariah, BNI Syariah dan Victoria Syariah. Walaupun dibandingkan dengan negeri tetangga perkembangannya tidak secepat yang diharapkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan bank syari’ah tumbuh mengesankan. Selain karena faktor demografis Indonesia yang memiliki penduduk sangat besar sekitar 240 juta jiwa dan 80% penduduknya beragama Islam, bank syari’ah juga sudah didukung dengan regulasi yang memadai diantaranya ialah telah disahkannya undang-undang bank syariah, Sukuk atau surat berharga syariah Negara (SBSN) dan penghapusan pajak ganda (double tax) pada transaksi murabahah. Tak salah jika Bank Indonesia dalam Grand Strategi terkait pengembangan pasar perbankan syariah memiliki visi baru pada tahun 2010 untuk menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan Syariah terkemuka di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 81%. Walaupun target pada tahun 2009 dengan visi baru menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah paling atraktif di ASEAN dengan pencapaian target asset sebesar Rp 87triliun dan pertumbuhan industri sebesar 75% tidak tercapai, sedikit meleset ke angka Rp65-67 triliun dengan pertumbuhan 30% atau sekitar 3% dari total pangsa pasar perbankan nasional, Namun setidaknya harapan untuk menjadikan perbankan syariah terkemuka di ASEAN beberapa tahun mendatang bukan sekedar pepesan kosong. Selain itu, positioning baru khas iB sebagai “beyond banking (lebih dari sekedar bank), yaitu perbankan yang menyediakan produk dan jasa keuangan yang lebih beragam serta didukung oleh skema keuangan yang bervariasi, memberikan citra tersendiri untuk dapat menarik golongan masyarakat yang lebih luas. Untuk itu, diperlukan berbagai langkah pengembangan dalam rangka menopang dan mendongkrak pertumbuhan perbankan syariah secara signifikan, menarik golongan masyarakat lebih luas sesuai dengan target yang diharapkan. Berikut langkah-langkah tersebut:

  1. Penguatan Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia menjadi poin penting dalam pengembangan perbankan Syari’ah. Hal tersebut dikarenakan tantangan perbankan syaria’h ke depan semakin komplek. Apalagi Perbankan syari’ah sudah mempositioning-kan dirinya “lebih dari sekedar bank”. Artinya bank syariah bukan hanya sekedar layanan simpan-menyimpan atau pinjam-meminjam, namun juga mampu menawarkan solusi bagi kebutuhan nasabah dengan menyediakan ragam produk dan jasa keuangan yang didukung dengan skema keuangan yang lebih bervariasi dengan tetap mengedepankan substansi Syar’i. Sehingga dibutuhkan sumberdaya manusia yang memahami konsep Maqashid Syari’ah, transaksi syari’ah dan perilaku syari’ah, namun juga memiliki wawasan luas terhadap produk dan praktek perbankan syari’ah. Sumberdaya yang hanya copy paste dari bank konvensional lalu di edit dengan design syari’ah harus diperkuat dengan landasan yang memadai, sehingga sumberdaya syari’ah dipersiapkan menjadi sumberdaya tangguh yang memahami konsep dan praktek transaksi syari’ah secara komprehensif.

2.Inovasi produk

Inovasi produk mutlak dilakukan agar perbankan syari’ah mampu menggaet berbagai segmen, mampu menyediakan ragam produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, menyediakan produk yang memiliki kesan modern. Prinsip transaksi syari’ah menjadi landasan utama dalam melakukan inovasi produk. Nama Produk perbankan syari’ah tidak harus memakai bahasa arab yang sulit dipahami. Produk yang inovatif, merupakan produk yang mudah dipahami oleh konsumen-nya, memenuhi harapan nasabahnya dan memberikan perspektif baru bagi nasabahnya. Selain itu, produk perbankan syari’ah harus mampu memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan dengan produk perbankan konvensional.

3.Pengembangan infrastruktur Perbankan Syari’ah

Untuk menyajikan produk perbankan syari’ah yang menarik, produk perbankan syari’ah harus didukung dengan infrastruktur yang memadai, seperti: dukungan teknologi informasi dan komunikasi, sumberdaya yang kompeten serta fasilitas dan jaringan yang memadai, sehingga membuat nasabah nyaman dan tentram untuk melakukan transaksi perbankan syari’ah.

4.Program pemasaran terpadu

Saat ini fasilitas, jaringan serta variasi produk perbankan syari’ah sudah tidak kalah dengan bank konvensional, namun kurangnya sosialisasi dan komunikasi pemasaran yang mengena membuat produk-produk dan fasilitas perbankan syari’ah kurang dikenal. Banyak masyarakat yang masih mengira produk perbankan syari’ah hanya berbasis bagi hasil dan bebas riba’, fasilitasnya masih kalah dengan bank konvensional. Padahal, cepatnya perkembangan perbankan syari’ah menuntut para praktisi mengembangkan fasilitas perbankan syari’ah setara dengan bank konvensional bahkan lebih baik. Oleh karena itu, sosialisasi harus lebih ditekankan pada peningkatan citra perbankan baru yakni lebih dari sekedar bank serta luasnya jaringan dan lengkapnya fasilitas. Promosi dan komunikasi harus menjangkau masyarakat lebih luas, terbuka bagi semua segmen masyarakat.

5.Orientasi ke sektor riil

Sinergi terhadap sektor riil merupakan ciri khas berbagai prinsip transaksi syari’ah. Substansi berbagai transaksi mengindikasikan dukungannya terhadap sektor riil. Sehingga porsi terbesar seharusnya dialokasikan untuk sector tersebut. Sebagai sektor yang diharapkan mampu meraup banyak tenaga kerja dan mendorong semangat wirausaha, bukan dialokasikan ke sektor financial ataupun dititipkan ke SBI dengan suku bunga tinggi.

6.Dukungan regulasi yang memadai

Regulasi yang memadai menjadi penting agar akselerasi perbankan syaria’h bisa lebih cepat serta memiliki daya saing tinggi karena dukungan regulasi. Agar produk perbankan syari’ah memiliki legitimasi dan pijakan yang kuat, sehingga bisa meningkatkan daya saing industri perbankan syari’ah yang semakin mendapat tempat di hati masyarakat.

7.Meningkatkan pelayanan dan profesionalisme

Pelayanan yang ramah sangat menentukan pilihan masyarakat dalam memilih bank syari’ah. Isu emosional bahwa bunga bank adalah riba’ sudah tidak bisa lagi dijadikan tameng. Perbankan syaria’h harus mengedepankan layanan prima dan professional pada konsumen. Mengaplikasikan pelayanan perbankan syaria’h dengan dimensi CARTER (Compliance with Islamic Law (ketaatan terhadap syari’ah), Assurance (Jaminan), Reliability (keandalan), Tangible (bukti fisik), Emphaty (empati), dan Resposiveness (tanggap)).

Tentu saja ambisi untuk menjadi jawara ASEAN perlu disiapkan dengan matang, digodok di padepokan perbankan syari’ah dengan sinergi yang kuat berbagai stakeholder perbankan syari’ah. Selain itu, faktor internal ataupun eksternal serta kondisi makro perekonomian juga sangat mempengaruhi keberhasilan tersebut. Sehingga kesiapan dalam menghadapi segala kemungkinan mutlak diperlukan.

July 25, 2010 at 7:21 am Leave a comment

Islam Bicara Ekonomi Kerakyatan…?

Sejak pasangan capres-cawapres mulai mendeklarasikan dirinya, program yang paling mendapat sorotan dari khalayak adalah visi ekonomi. Visi ekonomi pasangan capres-cawapres memiliki porsi besar untuk diperhatikan karena ia menyangkut kesejahteraan suatu negara, kesejahteraan rakyat banyak dan kemandirian bangsa. Pihak-pihak tersebut saling mengklaim bahwa diri mereka memiliki visi ekonomi kerakyatan dan membantah jika disebut mengusung program neoliberalisme, tetapi konsep ekonomi kerakyatan yang seperti apa?detail operasionalnya perlu menunggu penjabaran mereka saat kampanye pemenangan pilpres. Saat ini marilah coba kita telurusi kondisi Indonesia, semuanya mengakui bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumberdaya alam, hutannya menjadi paru-paru dunia, lautan luas membentang dengan kekayaan biota laut yang besar, negara agraris dengan wilayah pertanian yang luas, negara kepulauan dengan kekayaan sumberdaya berlimpah dan beragam. Namun, jika dilihat kondisi ekonominya Indonesia memiliki hutang yang banyak, pengangguran yang besar dan kemiskinan yang belum terselesaikan. Jadi sebenarnya dimanakah kesalahan dari visi yang diusung selama ini? sebuah visi ekonomi yang diharapkan mampu mensejahterakan ekonomi rakyat mengentaskan kemiskinan. Tulisan ini tidak akan bicara mana yang salah ataupun benar, namun hanya sekedar ingin menawarkan sebuah gagasan ekonomi yang terinspirasi dari nilai-nilai islami, barangkali ini menjadi tawaran yang bisa dijadikan solusi bagi permasalahan bangsa yang ingin rakyatnya sejahtera lahir dan batin.

Pertama, membicarakan masalah kemiskinan maka nilai-nilai Islam menganjurkan pelaksanaan mekanisme zakat untuk dioptimalkan distribusinya dalam mengentaskan kemiskinan. dimana jika ditelaah lebih lanjut konsep zakat merupakan sebuah kewajiban bagi muzakki (orang yang mampu menunaikannya). Sifatnya yang obligatory rule membuat pihak berwenang diharuskan mengambil ke rumah bagi yang tidak membayar zakatnya padahal ia mampu. Zakat dikenakan atas pendapatan dan harta yang telah memenuhi syarat. Selain itu mekanisme zakat memiliki kekhususan sistem distribusi dimana proses distribusi tidak ditujukan untuk keperluan lain, hanya yang disebut dalam Al-Qur’an mereka yang disebut Al-asnaf as-tsamaniyah (8 bagian) yang memiliki hak sebagai mustahik (orang yang dikenai zakat) yaitu : faqir, miskin, amil (mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya, Gharimin (orang yang banyak berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya), Fisabilillah (mereka yang berjuang di jalan Allah), Ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal sedang ia dalam perjalanan di jalan kebaikan). Jika kita menela’ah lebih lanjut Indonesia memiliki pontensi zakat yang besar yang belum teroptimalkan, yaitu 19,3 triliun pertahun. Sayangnya, potensi tersebut belum mampu dioptimalkan. Hingga kini, baru sekitar lima persen dari potensi zakat itu yang mampu terjaring Badan Amil Zakat (BAZ) serta Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang tersebar di Tanah Air. Itu artinya, baru sekitar Rp 925 miliar dana zakat setiap tahunnya yang mampu dikumpulkan BAZ dan LAZ di Indonesia (replubika.co.id, 29/04/09). Belum lagi potensi infak, shodaqoh dan wakaf. Wakaf dalam Islam adalah sebuah sistem yang memiliki keunikannya sendiri, nilai pokok wakaf tidak boleh habis seperti halnya zakat, infaq ataupun shodaqoh. Sehingga nilai wakaf akan selalu bertambah. Menurut Mustafa Edwin, Ketua Pasca Sarjana Ekonomi Syariah UI, potensi wakaf tunai di Indonesia diperkirakan bisa mencapai Rp 3 triliun sampai Rp 4 triliun per tahun. potensi wakaf tersebut tidak habis dan akan terus bertambah. Jika tahun ini bisa mendapatkan ada Rp 3 triliun, maka mungkin lima tahun kemudian meningkat sampai mencapai Rp 15 triliun, dan terus akan meningkat seiring kesadaran masyarakat dalam mewakafkan hak miliknya. Sebuah potensi yang luar biasa untuk mengentaskan kemiskinan. Dimana harta wakaf tersebut bisa digunakan untuk investasi jangka panjang seperti membangun sekolah gratis, rumah sakit gratis, peningkatan standar hidup hunian kumuh, membantu pendidikan anak yatim piatu, menciptakan lapangan kerja yang penting untuk menghapus kemiskinan dan lain sebagainya. Bahkan di beberapa negara sudah menerapkan wakaf produktif dengan menggandeng investor-investor untuk sebuah usaha yang produktif. Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja perlu dioptimalkan apalagi disentralisasikan secara langsung oleh pihak pemerintah menjadi sebuah kebijakan, maka akan menjadi kekuatan yang besar dalam mengentaskan kemiskinan.

Kedua, membicarakan masalah sumberdaya alam, Indonesia memiliki potensi minyak, gas, dan sumberdaya tambang lain yang besar, Rosulullah saw bersabda : rakyat berserikat dalam tiga hal : air, api, dan udara. Hadits ini mengisyaratkan bahwa pemiliki kekayaan alam sebenarnya adalah rakyat. Nah, seharusnya air yang turun dari langit dan terpancar dari bumi, segala sumberdaya yang menghasilkan api seperti minyak, gas dan bahan tambang lainnya serta segala sesuatu yang memanfaatkan udara seperti gelombang untuk telekomunikasi dikelola oleh negara dengan harga yang semurah-murahnya. bidang-bidang tersebut sepenuhnya harus dikelola oleh pemerintah, serta membuat bidang-bidang tersebut perusahaan BUMN yang dikelola secara profesional, transparan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat banyak. Disini seharusnya sektor-sektor tersebut tidak selayaknya diprivatisasi jika terjadi pembagian saham, maka saham pemerintah tetap harus lebih besar, agar kebijakan yang diambil oleh pemegang saham diprioritaskan untuk keuntungan rakyat dan bukan untuk keuntungan individu. Indonesia memiliki cadangan minyak yang besar, namun selama ini hampir semua sumur minyak di Indonesia di kuasai oleh korporasi minyak asing yang merupakan perusahaan multinasioanal, selebihnya dikelola oleh Pertamina dan sedikit pengusaha nasional dalam skala kecil. Dibidang pertambangan Indonesia juga merupakan negara kaya, memiliki cadangan emas yang banyak, timah yang berlimpah dan bahan tambang lainnya. Namun lagi-lagi kebanyakan perusahaan tambang dikuasai asing. Indonesia hanya mendapatkan pajak dan royalti yang sangat sedikit dibandingkan penghasilan besar berkalilipat yang perusahaan asing peroleh. Sepatutnya pemimpin-pemimpin negeri ini merefleksikan kembali apa yang dilakukan oleh Rosulullah saw sebagaimana dikemukakan oleh An-Nabhani berdasarkan pada hadis riwayat Imam at-Turmidzi dari Abyadh bin Hamal. Dalam hadis itu, disebutkan bahwa Abyad pernah meminta kepada rasul untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul meluluskan permintaan itu, tetapi segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (ma’u al-’iddu).” Rasulullah kemudian bersabda, “Tariklah tambang tersebut darinya.”


Ketiga, Dalam sektor keuangan Islam menganjurkan untuk menghindari riba’ dan menganjurkan jual beli. Yang berarti bahwa sektor riil lebih dianjurkan dalam Islam. Hal ini juga ditunjukkan dalam berbagai sistem transaksinya seperti mudharabah, musharakah, murabahah, ba’i al-istishna’ dan lain sebagainya yang menyaratkan adanya dua orang yang bersepakat untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan, proyek ataupun bisnis tertentu serta mengharuskan adanya barang yang akan dijadikan sebagai objek transaksi. Hal ini memungkinkan terhindarnya transaksi spekulatif dari berbagai transaksi derivatif yang memunculkan bubble economy, sebuah sistem yang dirasakan kelemahannya saat ini, saat terjadi krisis global. Sebuah fakta yang mencengangkan dari sistem ribawi adalah bahwa transaksi riil ternyata lebih kecil dimana nilainya sekitar 50 milliar dolar dibandingkan dengan transaksi keuangan, perdagangan kertas yang nilai transaksinya mencapai 600 milliar dolar. Islam menjadikan uang bukan komoditas, namun uang adalah alat tukar dan penambah nilai yang tidak bisa diperdagangkan. Sektor finansial harus lebih bersinergi dengan sektor riil. Islam melarang merebaknya riba’, lebih menganjurkan jual beli dan menganjurkan loss and profit-sharing dalam transaksinya.

Keempat, masalah pengangguran menjadi perhatian yang besar dalam Islam sebuah kisah dari Rosulullah saw bisa dijadikan inspirasi dalam membuat kebijakan, Diceritakan oleh Anas radhiyallohu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki Anshar mendatangi Rosulullah saw kemudian meminta sesuatu kepada beliau. Maka Rosulullah berkata :”Adakah di rumah Tuan sesuatu? “ lelaki Anshar itu menjawab : “Ya, masih ada hils (pakaian tebal), sebagian kami pakai dan yang lain kami gunakan untuk tikar, serta satu buah bejana untuk minum”. Rasulullah lalu berkata lagi, “berikan barang-barang itu kepadaku!”. Maka kedua barang tersebut diambilnya lalu diberikan kepada Rosulullah. Kemudian Rosulullah saw mengambil kedua barang tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil berkata, “siapa yang mau membeli barang ini?”seorang laki-laki menjawab, “saya yang membelinya dengan harga dua dirham”. Maka kemudian kedua barang itu diberikan kepada lelaki tersebut, sementara Nabi menerima dua dirham tersebut lalu memberikan kepada lelaki Anshar itu sambil berkata,”yang satu dirham belikanlah makanan dan bagikanlah kepada keluargamu, sedangkan yang satu dirham lagi belikan kapak lalu datanglah kemari! Kemudian (lelaki itu membeli kapak) dengan membawa kapaknya lelaki itu datanglah menemui Rasulullah. Beliau mengambil sebilah kayu dan beliau sendiri membuatkan tangkai kapaknya dan kemudian menyerahkan kepada lelaki Anshar itu sambil berkata, “Pergilah mencari kayu bakar dan juallah. Aku tidak ingin melihatmu selama lima belas hari” lelaki Anshar itu benar-benar melaksanakannya dan baru kembali menemui Rasulullah setelah memperoleh sepuluh dirham. Uang itu sebagian untuk membeli pakaian dan sebagian lagi untuk membeli makanan. Kemudian Rasulullah berkata, “Ini lebih baik bagimu daripada engkau datang meminta-minta, yang akan mendatangkan titik hitam di wajahmu pada hari kiamat”.

Kisah ini memberikan pelajaran pada kita bahwa untuk menyelesaikan pengangguran diperlukan inisiatif dari para pemimpin untuk mencoba memberikan fasilitas yang mampu menghasilkan kail-kail bukan sekedar ikan, tapi kail untuk memancing ikan yang lebih banyak bahkan lebih besar. Berikanlah kepada rakyat-rakyat yang menganggur suatu alat, modal usaha, barang untuk diusahakan yang dapat dikelola dan dikembangkan dengan bimbingan dan pelatihan memadai. Pelatihan berupa ketrampilan tertentu, manajemen pengelolaan serta pemasaran untuk meningkatkan kualitas produksinya. Daripada sekedar memberikan ikan hasil pancingan yang cepat habis termakan. Maka pemberian fasilitas produktif, penyediaan lapangan kerja yang menyerap tenaga yang banyak lebih diutamakan.

Kelima, Tentang utang, Rosulullah saw sangat berhati-hati dengan utang bahkan Rosulullah sendiri sebagai pemimpin saat itu menjamin rakyatnya yang berutang untuk ia lunasi saat meninggalnya. Karena utang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Islam tidak melarang berhutang, berhutang dilakukan ketika menghadapi kesulitan ekonomi yang tidak terelakkan, namun transaksi hutang bukanlah transaksi bisnis, dalam islam dikenal dengan transaksi tabarru’, sehingga diusahakan berhutang dari sumber-sumber yang terbebas dari nilai-nilai ribawi. Dalam Konteks Indonesia utang yang menggunung ini diakibatkan hutang yang mengandung nilai riba, dimana sistem ekonomi hutang ribawi ini mengharuskan negara penghutang untuk membayar hutangnya ditambah bunga hutang pada saat jatuh tempo dalam keadaan apapun, apakah pinjaman mereka menguntungkan atau tidak. Kewajiban membayar hutang ini jelas akan menurunkan nilai Rupiah akibat keharusan kita untuk membayar hutang dalam bentuk nilai mata uang asing. Ketidakmampuan untuk membayar hutang ketika jatuh tempo akan menyebabkan bunga hutang akan semakin membengkak dari waktu ke waktu, apalagi pemerintah harus membayar bunga atas bunga (interest on interest) yang belum terlunasi. Apalagi jika pinjaman yang kadang dibahasakan dengan istilah “bantuan” ini digunakan untuk membiayai sektor-sektor non-produktif ataupun terjadi kebocoran akibat praktek kolusi dan korupsi, jelas utangnya akan semakin bertambah. Lebih ironis lagi jika bantuan luar negeri ini dijadikan sebagai senjata politik untuk mengintervensi kebijakan politik negara-negara pemberi utang untuk mencapai tujuan mereka. Maka, utang yang memiliki motif seperti ini harus dihindari. Indonesia memiliki potensi besar untuk tidak berhutang asal kita semua berusaha, bahu-membahu untuk berpikir memanfaatkan sumber daya alam Indonesia pada hal-hal yang lebih produktif.

Itulah sedikit dari beberapa poin penting yang terinspirasi nilai-nilai Islam. Terlepas dari apapun nama sistem ekonominya yang jelas inspirasi dari Islam perlu dipertimbangkan dan dikaji lebih lanjut sebagai upaya dan langkah maju untuk mensejahterakan rakyat.

June 20, 2009 at 3:39 am Leave a comment

Menggagas Konsep produk Islami

Akhir-akhir ini ekonomi syari’ah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dari perbankan, asuransi, pasar modal, pegadaian, bahkan obligasi. Jika ditilik secara sekilas perkembangannya masih terfokus pada sektor finansial, belum banyak menyentuh pada sektor riil dengan konsep produk yang islami sesuai tujuan syari’ah. Padahal sektor riil memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian. Disinilah perlunya memformulasikan konsep sektor riil yang memiliki produk yang sesuai syari’ah, karena sektor riil selain memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian juga kontribusi besar terhadap terbentuknya sebuah budaya, moral dan sumber daya insani. Tulisan ini mencoba memformulasikan konsep bisnis yang islami, akibat dari konsep non islami yang dikembangkan, dan bagaimana sebenarnya pemasaran ditujukan lebih kepada edukasi, penciptaan awareness konsumen dan konsep produksi yang islami dan edukasinya.

PENDAHULUAN

Sangat menyenangkan jika melihat perkembangan praktek dan studi ekonomi syari’ah. Saat ini ia menjadi icon tersendiri yang patut dicermati perkembangannya. Tersedianya perangkat dan aturan yang mendukung sangat ditunggu untuk menopang perkembangan ekonomi syari’ah pada dekade yang akan datang. Sayangnya jika dilitilik secara sekilas perkembangannya masih terfokus pada sektor finansial yang terkait dengan transaksi dan akad jual beli yang merambah sektor perbankan, asuransi, pasar modal, reksadana, pegadaian dan industri lainnya. belum banyak yang mengkaji tentang konsep produk yang islami yang terkait dengan sektor riil sesuai tujuan syari’ah, kecuali tentang etika bisnis juga akad yang sesuai syari’ah. Padahal produk yang tersedia menjadi awal pijakan untuk membangun perekonomian individu dan bahkan pembentukan pola pikir dan budaya dari produk yang dikonsumsi oleh masyarakat. Benarkah sebuah produk bisa merangsang pola pikir seseorang dan budaya masyarakat?

Jika melihat tayangan yang ada di sekitar kita, maka tiap kurang lebih lima menit kita pasti akan mendapatkan sebuah iklan dengan pesan tersendiri yang akan disampaikan sesuai dengan manfaat sebuah produk, sesuai dengan fungsinya iklan dipakai untuk mengenalkan sebuah produk, memberikan informasi pada konsumen, merangsang, memberikan kesadaran pada konsumen, dan jika didukung oleh daya beli produk yang diiklankan akan sampai pada tahap aksi “pembelian”. Gencarnya iklan yang ditayangkan diberbagai media dengan ciri khas tersendiri yang dimiliki sebuah produk menjadi imajinasi tersendiri dalam merangsang preferensi dan cita rasa konsumen untuk mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Dan jika hal yang diiklankan masuk dalam otak bawah sadar konsumen, maka secara tidak langsung dan sedikit demi sedikit akan mempengaruhi pola pikir konsumen yang pada akhirnya akan meniru gaya hidup seperti yang tertuang dalam iklan tersebut. Dan jika pola pikir sudah mempengaruhi masyarakat secara tidak langsung budaya yang selama ini ada akan bergeser pada budaya yang ada dalam sebuah iklan.

Masalah yang paling mendasar juga berkaitan dengan pembuat produk, dengan mudah kita dapat pahami bahwa seorang konsumen tidak akan membeli produk jika produk yang diinginkan tidak ada. Tingginya dekandensi moral yang terjadi perlu dilihat dari berbagai aspek salah satunya adalah ketersediaan produk dari para pembuat produk. Banyaknya beredar produk yang tidak islami yang ditawarkan baik secara sembunyi ataupun terang-terangan, menjadi salah satu penyebab dekadensi moral.

Lihatlah beberapa berita yang sering ditayangkan televisi. Terjadinya pelecehan seksual terhadap anak kecil disebabkan karena melihat VCD porno yang tentunya disediakan oleh produsen walaupun secara sembunyi-sembunyi. Gaya hidup hedonis dan pragmatis, juga konsumerisme pamer terjadi karena tersedianya produk entertainment, baik majalah, surat kabar, ataupun film dengan gaya hidup barat yang selalu menarik menegangkan dan tentunya menyenangkan, bahkan banyak yang melanggar dari etika yang telah ditetapkan. Yang secara tidak langsung berpengaruh pada pola pikir pembaca dan penglihat. Candu narkoba, putaw, nikotin dan bahan sejenis lainnya juga karena adanya produsen yang menyediakan walaupun dijual secara sembunyi – sembunyi. Banyaknya pemabuk yang berkeliaran di kafe dan pinggir-pinggir jalan juga tidak lain karena disediakannya berbagai jenis minuman yang mengandung alkohol, membikin terbang dan nyaman sekilas. Analisis runtuhnya nilai moral dan sosial dari fenomena yang sering disebut underground economy, menjadi isu yang menarik untuk diangkat ketika banyaknya masalah social terjadi justru ketika perekonomian bawah tanah banyak yang merajalela karena jika dibawa ke permukaan tanah tersandung oleh aturan dan norma masyarakat.

PRINSIP PRODUKSI DALAM ISLAM

Disinilah perbedaan antara prinsip islam dengan prinsip lainnya. Islam dalam hal pembuatan produk sangat mengedepankan moralitas dan menyentuh nilai dasar kebutuhan manusia (riel needs). Tidak harus selalu merespon kebutuhan konsumen, karena islam akan memfilter keinginan orang dalam mengkonsumsi sebuah produk. Produksi dalam islam tidak mengatakan bahwa konsumen adalah raja, atau apapun yang diminta konsumen asal konsumen puas akan dilayani oleh perusahaan. Islam dalam hal ini sangat menghargai keinginan konsumen dan berusaha untuk menyenangkannya tetapi islam akan menyaring hal-hal yang tidak sesuai dengan islam untuk tidak diproduksi. Batasan yang diberikan islam dalam membuat sebuah produk sangat jelas, yang benar tidak bisa dicampurkan dengan yang salah atas alasan apapun. Islam juga sangat menekankan kualitas pelayanan tetapi kepuasan konsumen dibatasi dalam bingkai syari’ah islam. Produksi dalam islam tidak boleh sekedar merespon permintaan pasar begitu saja. Tetapi juga mengedepankan pemenuhan moralitas. Contohnya walaupun produksi khmr (minuman keras) ataupun judi memiliki permintaan pasar yang besar dan memberikan potensi keuntungan yang besar bagi produsen, tetapi dalam islam hal tersebut tidak boleh dilakukan, sebab kedua barang konsumsi tersebut membahayakan, merusak akhlak generasi muda, membuat orang tidak produktif dan tidak sesuai dengan nilai-nilai syari’ah.

Sehingga tujuan produsen dalam islam tidak cukup hanya mencari keuntungan maksimum belaka, tetapi juga menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. Islam memberikan ruang fleksibilitas yang sangat lebar dengan konsepnya yang sederhana namun mengena dan menyeluruh” segala sesuatu dalam ibadah dilarang kecuali yang diperintahkan, dan segala sesuatu dalam mu’amalah dibolehkan kecuali yang dilarang”.

PENTINGNYA EDUKASI KONSUMEN DAN PENTINGNYA KREATIVITAS

Edukasi konsumen menjadi hal penting dalam penyebaran produk islami. Karena tidak semua orang memahami konsep produk islami, bahkan ada orang islam tetap mengkonsumsi produk yang tidak islami, sehingga penekanan produk dalam islam selain melihat kebutuhan dan keinginan dalam batasan syari’ah islam juga harus dikedepankan keunggulan dan menyentuh kebutuhan dasar manusia. Marketing digunakan untuk mendidik konsumen akan manfaat dari produk yang dibuat, bukan sebagai alat ampuh untuk membodohi konsumen, dan memberi imajinasi tertinggi yang mendorong otak bawah sadar manusia untuk membeli. Melainkan sebagai alat ampuh untuk menyentuh hati manusia pada kebutuhan dasar yang harusnya diprioritaskan untuk dibeli. Selain itu, konsep inovasi dan kreativitas sangat ditekankan oleh Islam asal tidak melewati batas yang telah ditetapkan. Islam dalam hal ini sangat mengedepankan optimalisasi kemampuan sumberdaya yang dimiliki manusia, optimalisasi pikiran, optimalisasi otak, dan optimalisasi seluruh sumberdaya, baik manusia ataupun alam, seharusnya menjadi kekuatan islam untuk terfokus pada karya dan pengembangan yang sesuai dengan tujuan syari’ah. Kekuatan focus dan inovasi menjadi suatu keunggulan dalam setiap bisnis dan kualitas pelayanan yang islami menjadi daya saing untuk mencapai keunggulan yang kompetitif. By : Wan’s

June 27, 2008 at 2:17 pm Leave a comment

HALAL DAN THAYYIB : SEBUAH IMPLEMENTASI PROSES PRODUKSI

Dalam hal konsumsi, umat islam diperintahkan untuk memakan makanan yang halal, thayyib, dan menghindari hal-hal yang secara tegas diharamkan. Akhir-akhir ini dikarenakan pesatnya kemajuan teknologi memungkinkan berbagai sektor produksi untuk meningkatkan produksinya sesuai dengan selera konsumen. Makanan ataupun minuman bisa diproduksi secara massal dalam jumlah besar, secara mudah dapat dikonsep untuk merubah jenis dan bentuk sesuai dengan keinginan, bahkan proses pengolahan bisa dipercepat agar lebih efektif dan efisien. Namun, proses pengolahanya tentunya membutuhkan zat tambahan ataupun zat penolong yang tidak semuanya dapat diketahui oleh konsumen dari zat apakah bahan penolong ataupun bahan tersebut berasal? Tidak menutup kemungkinan jika bahan-bahan tersebut berasal atau tercampur dengan bahan-bahan yang diharamkan baik melalui medianya, ataupun proses pengolahannya. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan, kehati-hatian dan pengawasan yang merupakan tugas para produsen untuk menjamin konsumennya bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk proses produksi selain menggunakan bahan-bahan yang halal, media yang halal juga menggunakan proses pengolahan halal. Para produsen harus membuat sistem proses produksi yang menjamin konsumen bahwa proses produksinya halal, dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dibuktikan.
Untuk menjamin bahwa proses produksinya halal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh produsen, yaitu sebagai berikut :

Mengidentifikasi bahan-bahan produksi halal, dan memastikan terhindarnya bahan-bahan yang diharamkan.
Pada dasarnya hal-hal yang dihalalkan lebih banyak daripada hal-hal yang diharamkan. Semua bahan yang berasal dari hewan, tanaman, buah-buahan ataupun bahan tambahan dan penolong yang dihasilkan melalui proses kimiawi, bioteknologi ataupun ekstraksi adalah halal, kecuali hal-hal yang diharamkan atau tercampur salah satu hal yang diharamkan oleh Al-Qur’an, hadits, ijma’ ataupun qiyas.
Berikut bahan makanan dan minuman yang diharamkan :

a. Bangkai, yang termasuk bangkai adalah segala hal yang mati baik yang mati dengan sendiri maupun karena sebab lain seperti yang disebutkan dalam surat al-Ma’idah ayat 3 adalah sebagai berikut :

- Al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati karena dicekik, baik dengan cara menghimpit leher binatang tersebut ataupun meletakkan kepala binatang pada tempat yang sempit dan sebagainya sehingga binatang tersebut mati.

  • Al-Mauqudzah, yaitu binatang yang mati karena dipukul dengan tongkat dan sebagainya.

    - Al-Mutaraddiyah, yaitu binatang yang jatuh dari tempat yang tinggi sehingga mati. Yang seperti ini ialah binatang yang jatuh dalam sumur.

  • - An-Nathihah, yaitu binatang yang baku hantam antara satu dengan lain, sehingga mati.

    - Maa akalas sabu’u, yaitu binatang yang disergap oleh binatang buas dengan dimakan sebagian dagingnya sehingga mati.

    Kecuali binatang-binatang tersebut sempat disembelih.
    Selain itu Rosullullah SAW juga menambahkan termasuk bangkai adalah daging yang dipotong dari binatang yang masih hidup, dengan sabdaNya :

    مَا قُطِعَ مِنَ اْلبَهِيْمَةِ وَهِيَ حَيَّةً فَهِيَ مَيْتَةً (رواه أبوداود)
    Nabi Muhammad SAW menegaskan : bahwa bagian yang diambil dari binatang hidup adalah bangkai yang haram dimakan. (HR. Abu Dawud).

    Rasulullah saw mengecualikan bangkai ikan dan belalang dengan sabdanya :

    أًحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. أَمَّا اْلمَيْتَتَانِ فَاْلحُوْتُ وَالجَرَادُ. وَأَمَّا الدَمَانِ فَاْكَبِدُ وَالِّطحَالُ.
    Nabi Muhammad SAW menyatakan : dihalalkan bagi kita (umat islam) untuk memakan dua macam bangkai (ikan dan belalang) dan dua macam darah hati dan limpa. (HR. Ahmad bin Hambal, Ibnu Majah dan al-Daruqutni).

  • b. Darah, darah yang mengalir diharamkan karena kotornya, Nabi Muhammad SAW mengecualikan darah limpa dan hati yang boleh dimakan. Akhir-akhir ini darah biasanya dikonsumsi dalam bentuk marus.

    أًحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. أَمَّا اْلمَيْتَتَانِ فَاْلحُوْتُ وَالجَرَادُ. وَأَمَّا الدَمَانِ فَاْكَبِدُ وَالِّطحَالُ.
    Nabi Muhammad SAW menyatakan : dihalalkan bagi kita (umat islam) untuk memakan dua macam bangkai (ikan dan belalang) dan dua macam darah hati dan limpa. (HR. Ahmad bin Hambal, Ibnu Majah dan al-Daruqutni).

    c. Daging babi, salah satu hikmah diharamkannya daging babi adalah dikarenakan hewan ini memakan makanan yang kotor dan najis. Bahkan menurut beberapa penelitian ilmiah seperti yang disebutkan bahwa makan daging babi itu salah satu sebab timbulnya cacing pita.

    d. Sembelihan yang disembelih bukan Karena Allah.
    Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Halal dan Haram memaknai hal tersebut dengan menyatakan bahwa yang diharamkan ialah binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.

    dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.
    (Al-An’am ( 06) : 121)

    e. hewan karnivora (pemakan daging) yang bercakar dan bertaring dan burung mangsa dengan cakar, burung pemakan bangkai dan burung lain yang serupa.

    عن أبي ثعلبة أن النبي صلي الله عليه وسلم نهي عن أكل كل ذي ناب من السباع. (رواه البخاري).
    Dalam hadits Abu Sa’labah dijelaskan bahwa : Nabi Muhammad SAW melarang memakan binatang buas yang mempunyai taring. (HR. Al-Bukhari).

    نهي النبي عن كل ذي ناب من السباع و عن كل ذي مخلب من الطيور.(رواه مسلم )
    Termasuk dalam larangan ini adalah binatang buas yang mempunyai taring dan setiap yang mempunyai cakar (untuk membunuh) dari jenis burung. (HR. Muslim).

    f. keledai dan mule(hasil persilangan antara kuda-keledai)

    نهي رسول الله صلي الله عليه وسلم عن لحوم الحمر الأهلية وعن الجلالة عن ركوبها وأكل لحمها. (رواه أبوداود)
    Artinya : Rasulullah saw melarang makan daging keledai jinak dan jallalah serta mengendarainya

    g. Khamar, termasuk segala hal yang memabukkan.

  • Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al-Ma’idah : 90).

    mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,
    (Al-Baqarah : 219)

    Hal-hal tersebut diatas tidak boleh menjadi bahan tambahan, bahan campuran, bahan penolong apalagi menjadi bahan utama dari proses produksi, khususnya produk yang siap dimakan dan diminum seperti : makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetika.

    MEMPERHATIKAN PROSES PENYEMBELIHAN

    Selain memperhatikan bahan-bahan yang diharamkan diatas, untuk produk yang berhubungan dengan daging perlu memperhatikan proses penyembelihan secara islami, yang mencakup proses penyembelihan, petugas penyembelihan dan juga alat serta tempat penyembelihan.

    PETUGAS PENYEMBELIHAN

    a.Penyembelih harus seorang Muslim

    b.Sempurna akalnya

  • c.Memiliki pengetahuan yang baik dan benar tentang syari’at Islam sekurang-kurangnya mengetahui syarat-syarat penyembelihan hewan dan ketrampilan teknis penyembelihan.
    d.Mampu mengucapkan bismillahi Allahu akbar.

  • e.Sehat jamani dan rohani

  • f.Bebas dari luka, penyakit lain yang dapat mencemari produk.

  • ALAT PENYEMBELIHAN

  • Alat sembelih harus tajam agar tidak menyiksa.
    Alat penyembelihan digunakan khusus untuk sembelihan hewan halal.

    PROSES PENYEMBELIHAN

  • Menyebut nama Allah ketika menyembelih

    dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya[501]. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.
    (Al-An’am ( 06) : 121).

  • Rasulullah saw juga bersabda :

    apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya, maka makanlah dia.” (HR. Bukhari). (dalam halal dan haram , yusuf qardhawi, hal. 68).

    Menyembelih dengan alat penyembelihan yang tajam dan dapat mengalirkan darah dari binatang tersebut.
    Penyembelihan itu dilakukan di leher binatang tersebut, memotong trachea atau hulqum (saluran nafas), osephagus (saluran makanan), arteri, dan vena jugalaris (arteri dan vena besar di leher).
    Tidak boleh menyakiti atau menyiksa binatang sembelihan.

  • MEMPERHATIKAN FASILITAS FISIK PERALATAN PRODUKSI DAN PROSES PRODUKSI
    Fasilitas fisik peralatan produksi mencakup tata ruang, tempat produksi dan alat produksi harus benar-benar diperhatikan agar semuanya bisa terhindar dari hal-hal yang diharamkan ataupun hal-hal yang kotor dan najis.

    Ruangan produksi selain ditata dengan baik dan rapi juga harus bersih bebas dari kotoran dan najis, memiliki fasilitas sanitasi yang baik, penyediaan air bersih, tempat pembuangan limbah, sarana cuci tangan, sirkulasi udara yang memadai serta tidak ada peluang terkontaminasi oleh bahan yang haram, kotor dan najis.

    Peralatan produksi dalam proses produksi seperti alat penyembelihan, tempat memotong, tempat memasak, tempat membersihkan, selain harus bersih dari najis juga dipisahkan antara masakan yang digunakan untuk yang halal dengan yang tidak halal, jangan sampai tercampur dengan ramuan dari bahan yang haram seperti minyak babi, lemak babi, darah ataupun bangkai, sehingga dalam penyajian bisa dihasilkan produk yang steril, hygienis serta bersih, suci dan halal.
    Dalam proses produksi harus berhati-hati dalam memilih bahan baku, bahan tambahan ataupun bahan penolong. Selain harus menghindari hal-hal yang haram, dengan cara penyembelihan yang benar, air yang digunakan juga harus bersih, tidak najis yakni air mutlak/ bersih dan mengalir, serta dijauhkan dari hal-hal yang mendekati barang haram ataupun najis. By: Wan’s

    Referensi :
    - Bagian proyek sarana dan prasarana produk halal Depag, Modul Pelatihan Auditor Internal Halal, Jakarta, 2003

    - Aisjah Girindra, Hj, Dr, Prof, Pengukir Sejarah Sertifikasi Halal, LPPOM MUI
    - Yusuf Qardhawi, Dr, Halal dan Harm, Penerbit Jabal, Bandung, 2007

June 27, 2008 at 2:11 pm Leave a comment

Industri berbasis halal-thayyib : sebuah tantangan dan peluang

PENDAHULUAN
Halal dan Thayyib merupakan dua hal penting yang tidak bisa dipisahkan. Dalam beberapa ayat Al-qur’an kata halal selalu diikuti dengan kata thayyib. Kata tersebut sudah dikenal sejak 1400 tahun yang lalu, sejak Allah swt menfirmankan kepada Rosulnya :

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi thayyib (baik) dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

(Al-Baqoroh : 2 : 168)

Kata tersebut menjadi panduan bagi setiap manusia ketika melakukan aktivitas konsumsi ataupun produksi. Kata halal menjadi suatu hal yang patut diperhatikan dalam industri, terutama ketika negeri-negeri barat mulai banyak mengekspor daging mereka ke timur tengah dan asia tenggara sebagai negeri mayoritas muslim yang tentunya sangat memperhatikan aspek kehalalan produk. Aspek tersebut harus diperhatikan oleh kalangan industri, jika mereka tidak ingin kehilangan konsumennya, sebagai bagian dari upaya memenuhi kebuhan konsumen dari pasar yang akan diserap. Halal menjadi bagian terpenting dari industri, karena ia merupakan komponen inti menyangkut bahan baku, proses produksi hingga proses pengadaan dan packaging sebuah produk. Ia saat ini menjadi potensi, peluang sekaligus tantangan bagi kalangan pebisnis untuk meningkatkan kualitas produknya dengan berbasis pada kehalalan sebuah produk.

MENGENAL KONSEP DASAR HALAL DAN THAYYIB

Halal berasal dari bahasa Arab, halla, yang berarti lepas atau tidak terikat. Secara etimologi kata halalan berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya.

Sedangkan kata thayyib berarti lezat, baik, sehat, menentramkan dan paling utama. Dalam konteks makanan kata thayyib berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (kadaluarsa), atau tercampur benda najis. Tidak membahayakan fisik serta akalnya. Juga sebagai makanan yang sehat, proporsional dan aman (Prof. Dr. Hj. Aisjah Girindra, Pengukir sejarah sertifikasi halal, hal.20) .
Dasar ketentuan halal dan thayyib diambil dari Al-Quran, As-Sunnah, sekaligus fatwa ulama’. Al-Quran menjadi pondasi utama untuk menelusuri konsep halal dan thayyib yang diikuti As-Sunnah (Al-Hadits). Namun, jika dalam keduanya tidak disebutkan secara jelas, maka ijtihad para ulama’ yang kompeten dibidangnya dibutuhkan untuk menggali kejelasan dari produk yang dimaksud. Hal tersebut sesuai Hadits berikut :

Ketika Rosulullah mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah SAW bertanya : Bagaimana kamu memutuskan suatu hukum ketika kamu diminta untuk menentukan keputusan? Muadz menjawab : aku akan memutuskan dengan kitab Allah (al-Qur’an).

Rasulullah bertanya lagi : Jika kamu tidak menemukan di dalam kitab Allah? Muaz menjawab : dengan sunnah Rasulullah. Rasulullah bertanya lagi : jika kamu tidak menemukan di dalam sunnah Rasul-Nya? Muadz menjawab : Aku akan melakukan ijtihad dan aku tidak akan menyempitkan ijtihadku.

Berikut ini penelusuran beberapa ayat Al-Quran yang mengisyaratkan tentang konsep halal :

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(Al-Baqoroh : 2 : 168)

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
(Al-Baqoroh : 2 : 172)

dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

(Al-Ma’idah : 5 : 88)

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

(An-Nahl : 16 : 114)

Ayat-ayat tersebut diatas merupakan landasan untuk berkonsumsi secara halal dan thayyib dari rizqi yang dianugerahkan Allah swt. Lebih jauh mengenai halal dan thayyib dijelaskan lebih detail dalam beberapa ayat berikut :

mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang Dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.
(Al-Ma’idah (5) : 4)

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya.

(Al-An’am : 6 : 118)

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
……. dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik (thayyibat) dan mengharamkan bagi mereka segala yang busuk (khabaaits)….(Al-A’raf (7) : 157)

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

( Al-Ma’idah (5) : 96)

Penjelasan diatas mengemukakan tentang banyaknya makanan halal dan thayyib yang harus dikonsumsi oleh setiap manusia, mencakup makanan yang baik-baik, makanan dari buruan laut, dan yang disebut nama Allah dalam menyembelihnya. Sedangkan beberapa hal yang haram dijelaskan secara tegas dalam Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana beberapa ayat berikut :

Hal-hal yang haram sudah dijelaskan secara tegas dalam Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana beberapa ayat-ayat berikut :

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

(Al-An’am : 145)

Surat yang diturunkan pada akhir periode Makkah (masa nabi Muhammad SAW bermukim di Mekkah; 601-632), hanya mengharamkan empat jenis makanan, yaitu bangkai, darah, daging babi dan sembelihan yang menyebut selain nama Allah.

Sedangkan pada awal periode Mandinah (masa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. 622-632) sebagai berikut :

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak Menganiaya dan tidak pula melampaui batas, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(An-Nahl : 115).

Ternyata Allah memperjelas dan menegaskan kembali keharaman empat jenis makanan tersebut. Baru di akhir misi kerasulan Muhammad SAW, Allah swt mengulang kembali dan memperinci beberapa jenis makanan dengan menambahkan dan memperjelas dari apa yang diharamkan sebelumnya, dengan turunya ayat berikut :

diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah,daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al-Ma’idah : 3).

Ayat ini menerangkan lebih lanjut tentang diharamkannya hewan yang mati tercekik, dipukul, terjatuh, ditanduk, diterkam binatang buas, kecuali binatang-binatang tersebut masih sempat disembelih, dan juga binatang yang disembelih tidak menyebut nama Allah, seperti disembelih untuk berhala.

Perincian dari hal-hal yang haram diatas sebagai berikut :

1.Bangkai, baik yang mati dengan sendiri maupun karena sebab lain yaitu sebagaimana disebutkan dalam surat al-Ma’idah ayat 3 adalah sebagai berikut :

  • Al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati karena dicekik, baik dengan cara menghimpit leher binatang tersebut ataupun meletakkan kepala binatang pada tempat yang sempit dan sebagainya sehingga binatang tersebut mati.

    - Al-Mauqudzah, yaitu binatang yang mati karena dipukul dengan tongkat dan sebagainya.

    - Al-Mutaraddiyah, yaitu binatang yang jatuh dari tempat yang tinggi sehingga mati. Yang seperti ini ialah binatang yang jatuh dalam sumur.

    - An-Nathihah, yaitu binatang yang baku hantam antara satu dengan lain, sehingga mati.

    - Maa akalas sabu’u, yaitu binatang yang disergap oleh binatang buas dengan dimakan sebagian dagingnya sehingga mati.

    Kecuali sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas ialah yang sempat disembelih
    Selain itu Rosullullah SAW juga menambahkan termasuk bangkai adalah daging yang dipotong dari binatang yang masih hidup, dengan sabdaNya :

    مَا قُطِعَ مِنَ اْلبَهِيْمَةِ وَهِيَ حَيَّةً فَهِيَ مَيْتَةً (رواه أبوداود)
    Nabi Muhammad SAW menegaskan : bahwa bagian yang diambil dari binatang hidup adalah bangkai yang haram dimakan. (HR. Abu Dawud).

    2. Darah, darah yang mengalir diharamkan karena kotornya, Nabi Muhammad SAW mengecualikan darah limpa dan hati yang boleh dimakan. Akhir-akhir ini darah biasanya dikonsumsi dalam bentuk marus.

    أًحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. أَمَّا اْلمَيْتَتَانِ فَاْلحُوْتُ وَالجَرَادُ. وَأَمَّا الدَمَانِ فَاْكَبِدُ وَالِّطحَالُ.
    Nabi Muhammad SAW menyatakan : dihalalkan bagi kita (umat islam) untuk memakan dua macam bangkai (ikan dan belalang) dan dua macam darah hati dan limpa. (HR. Ahmad bin Hambal, Ibnu Majah dan al-Daruqutni).

    3.Daging babi, salah satu hikmah diharamkannya daging babi adalah dikarenakan hewan ini memakan makanan yang kotor dan najis. Bahkan menurut beberapa penelitian ilmiah seperti yang disebutkan bahwa makan daging babi itu salah satu sebab timbulnya cacing pita.

    4. Sembelihan yang disembelih bukan Karena Allah.
    Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Halal dan Haram memaknai hal tersebut dengan menyatakan bahwa yang diharamkan ialah binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.

    sedangkan dalam hal keharaman minuman disebutkan sebagai berikut :

    Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al-Ma’idah : 90).

    mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,
    (Al-Baqarah : 219)

    Ayat-ayat diatas menjelaskan secara tegas hal-hal yang dihalalkan dan sebagian hal yang diharamkan.

    TANTANGAN BISNIS HALAL

Perkembangan bisnis saat ini sudah semakin pesat begitu pula dengan cepatnya perkembangan teknologi yang secara tidak langsung memacu perubahan sosial dan gaya hidup. Sehingga konsumsi makanan ataupun minuman saat ini dilihat berdasarkan bentuk dan jenisnya. Makanan dan minuman bukan hanya sekedar pelepas lapar dan dahaga, namun juga menunjukkan status sosial dan gaya hidup. Perubahan gaya hidup menyebabkan konsumen ingin menikmati makanan yang mudah disajikan, berpenampilan menarik, rendah kalori, lemak,ataupun kolesterol. Tak hanya makanan dan minuman, Bahkan dalam kosmetik, seseorang hanya perlu tampil cantik. Dan dalam hal konsumsi obat-obatan yang terpenting adalah kesembuhan.

Perkembangan IPTEK membuat semuanya jadi mudah. Untuk menyediakan makanan, minuman, kosmetik ataupun obat-obatan seperti yang diinginkan semuanya bisa diproses melalui berbagai zat tambahan baik kimiawi, bioteknologi ataupun diekstraksi dari tanaman dan hewan. Nah, disinilah perlunya kehati-hatian bagi konsumen agar yang Halal tidak bercampur dengan yang haram. Karena letak titik rawan dalam hal ini adalah perubahan atau percampuran dari bahan yang halal dengan yang haram, baik kemungkinan terjadi dari hewan-hewan yang tak halal, ataupun melalui fermentasi menggunakan media yang tidak halal. Selain mengenai proses pengolahan juga proses penyembelihan, karena banyaknya permintaan daging untuk memenuhi kebutuhan penduduk, saat ini proses penyembelihan mengalami perubahan yakni bukan satu-persatu namun secara massal menggunakan mesin penyembelihan, bahkan kadang sebelum dipotong hewan terlebih dahulu dipingsankan, yang menyebabkan hewan tersebut menjadi bangkai sebelum disembelih. Padahal Kehalalan produk sangat memperhatikan metode penyembelihan. Disinilah perlunya pengetahuan baik produsen ataupun konsumen agar kita tetap bisa menjaga kehalalan produk untuk siap produksi ataupun konsumsi.

Dan tantangan terbesar yang mesti dihadapi dalam industri ini adalah bagaimana membuat produk yang enak, menarik, awet dengan menjaga kualitas, keamanan, dan kesehatan produk namun tetap melalui dan mentaati proses dan prosedur pengolahan Halal, serta bagaimana agar mampu bersaing dengan negara lain yang sudah melihat besarnya peluang industri halal ini?
Langkah ini tidak hanya membutuhkan komitmen, namun perlu peran dari berbagai pihak untuk mendukung sektor ini.

Pertama, Produsen harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang halal dan haram, memiliki komitmen dan daya kritis, sekaligus mengerti proses dan prosedur halal-haramnya produk.
Kedua, Pemerintah perlu membuat regulasi dan mengupayakan standarisasi sistem jaminan halal dan disosialisikan kepada masyarakat luas.

Ketiga, Menjalin hubungan dengan sektor finansial untuk meningkatkan investasinya dalam sektor halal.
Keempat, diperlukan sumberdaya yang memiliki pengetahuan halal dan kemampuan mengolah dan mengidentifikasi proses produksi agar terhindar dari hal-hal yang diharamkan.
Kelima, memiliki manajemen mutu terpadu jaminan produksi halal.
Keenam, diperlukan promosi intensif promosi dan pencitraan halal secara efektif.

MELIHAT PELUANG HALAL

Menurut perkiraan Direktur Global Food Research and Advisory Sdn Bhd, Irfan Sungkar, di Kuala Lumpur, seperti dilansir dalam situs Halalguide.info pada tahun 2007, industri halal dunia mencapai nilai lebih dari 600 miliar dolar AS dengan populasi pasar penduduk Muslim sendiri (captive market) sekitar 1,6 miliar orang. Dinegara Asia, seperti Indonesia, China, Pakistan dan India, rata-rata tumbuh sekitar tujuh persen per tahun dan diperkirakan mencapai dua kali lipat dalam 10 tahun ke depan, Indonesia sendiri diperkirakan akan terjadi penambahan permintaan produk makanan daging halal mencapai 1,3 juta metrik ton setahunnya. Sedangkan negara Asia lainnya bisa mencapai dua juta metrik ton setahunnya. Bila produk makanan halal semakin banyak jenis yang diperdagangkan, potensinya tinggi. Selain daya beli, tingkat kesadaran makanan halal sudah tinggi.
Sementara itu, di Uni Eropa, meski jumlah penduduk Muslimnya minoritas dan jumlahnya sedikit, pertumbuhannya besar karena daya beli yang tinggi, seperti di Perancis dan Belanda. Muslim di Perancis membelanjakan 30 persen penghasilannya untuk makanan halal. Kuantitas konsumsi makanan daging sekitar 400 ribu metrik ton setahunnya. Sedangkan di Belanda, makanan halal tidak hanya dikonsumsi Muslim, tetapi juga non Muslim, sehingga total permintaan pasar halal mampu mencapai 2,8 miliar dolar per tahun.

Jika potensi besar tersebut tidak segera dimanfaatkan untuk memproduksi produk halal, maka negara yang mampu melihat peluang ini, akan segera memanfaatkan peluang tersebut. Terbukti Malaysia sudah mencitrakan dirinya menjadi Halal Hub dunia melalui JAKIM lembaga yang menaunginya, menjadi pusat sertifikasi halal dunia dan akan mempromosikan dirinya ke tingkat global. lebih dari itu, mereka juga meningkatkan kapasitas institusi, logistik dan tentu saja sumber daya manusia, dan membentuk badan khusus yang bertugas mendorong industri halal yaitu HDC (Halal Development corporation) . Badan itu memiliki tiga sasaran utama yaitu mengintegrasikan industri halal dalam bentuk standar, regulasi dan sertifikasi, pembangunan kapasitas yang meliputi meningkatkan kapasitas dalam perdagangan dan produksi produk dan jasa halal, serta promosi dan pencitraan yang mengembangkan kampanye, promosi dan pemasaran halal secara efektif.
Australia dan Selandia baru selain berhasil memanfaatkan pemahamanya tentang halal, negara tersebut menjadi pengekspor daging sapi, kambing dan domba terbesar ke negara-negara muslim. Pasar utama daging mereka adalah Timur Tengah, Asia, dan Eropa. Dalam hal ini, Selandia baru berhasil menjadi negera pengekspor daging halal terbesar dunia. Maka, tidak heran jika anda mengunjungi supermarket papan atas dengan mudah anda akan menjumpai produk daging asal Selandia Baru tersebut, bersanding dengan produk lokal bahkan produk Amerika. Mereka memahami potensi dan peluang halal, bahkan mereka dikenal ketat dalam melakukan pengujian, sebelum sertifikasi halal dikeluarkan terhadap daging-daging yang siap diekspor oleh lembaga sertifikasi yang ditunjuk pemerintah mereka yaitu Federation of Islamic Associations of New Zealand (FIANZ) dan New Zealand Islamic Meat Management (NZIMM).

Itulah peluang pasar halal yang sudah dilirik orang lain, bahkan negara yang minoritas penduduknya muslim mampu memanfaatkannya. Saat ini pasar halal bukan hanya untuk kalangan muslim, namun juga non muslim. Halal selain menjadi alat untuk memasuki pasar yang lebih luas, juga gerbang untuk memasuki pasar dan komunitas global, ia sudah menjadi simbol untuk jaminan kualitas dan pilihan gaya hidup. Sehingga jika tidak memanfaatkan kesempatan ini, maka kita akan tertinggal jauh, dan hanya menjadi konsumen, layaknya industri olahraga sepakbola, kita hanya menjadi komentator dan beramai-ramai untuk menjadi penonton. Saatnya untuk menjadi produsen dan memanfaatkan peluang tersebut, memenuhi kebutuhan keimanan dan ketaqwaan, dan menyediakan produk yang menentramkan konsumennya. by: Wan’s

June 27, 2008 at 1:59 pm 3 comments

Zakat Maximizer : jadikan tujuan utama dalam berusaha

Salah satu tujuan dari usaha adalah memaksimalkan laba perusahaan atau profit maximizer. Istilah Zakat maximizer saya ambil dari profit maximizer yaitu sebuah upaya untuk memaksimalkan zakat dalam sebuah usaha, menjadikannya sebagai indikator utama dan menjadikan zakat sebagai tujuan ketika seseorang berusaha. Alasan zakat dijadikan sebagai indikator dan tujuan utama dalam berusaha sangat memungkinkan seseorang untuk memaksimalkan usahanya. Mengingat mekanisme zakat yang sangat fleksibel. Zakat yang bersifat wajib dalam ekonomi islam dikenakan atas pendapatan dan harta yang telah memenuhi syarat dan dengan presentase yang telah ditetapkan Al-Qur’an sesuai dengan jenis sektor usaha yang digeluti, bukan diambil dari pokok modal usaha namun dari hasil keuntungan yang diperoleh. Jadi, pemberian zakat sama sekali tidak mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan, karena sudah ditetapkan dalam presentase yang baku dan tidak berubah menyesuaikan perputaran zaman. Jika ditelaah lebih lanjut fungsi zakat ternyata bukan hanya sebagai alat redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. Namun lebih dari itu, dilihat dari perspektif perekonomian zakat dapat memiliki fungsi lebih sebagai berikut :

● Mendorong produsen untuk meningkatkan rasio tabungannya , zakat ternyat dapat mendorong seseorang meningkatkan rasio tabungannya agar harta yang dimiliki tidak hanya disimpan, tapi diputar dalam sektor usaha yang produktif, sebab jika harta produsen menganggur dan tidak diputar dalam sektor usaha maka ia akan terkena zakat dari harta keseluruhan yang ia miliki dikarenakan masuk dalam kategori idle (menganggur), harta yang menganggur dan sudah mencapai syarat yang telah ditetapkan dalam zakat akan dikenakan dari keseluruhan harta tersebut. Namun, ketika harta yang sudah mencapai nisab diputar ke dalam sektor usaha, ia hanya dikenakan presentase zakat (nisab)dari keuntungan perusahaan yang diperoleh.

● Meningkatkan pendapatan yang siap dibelanjakan oleh konsumen penerima zakat . Zakat yang diberikan oleh muzakki memiliki aturan sendiri yang harus diberikan khusus kepada mustahiq zakat (berhak menerima zakat) yang dalam Al-Qur’an disebut Al-asnaf astsamaniyyah (golongan yang delapan) (At-Taubah : 60) diantaranya adalah sebagai berikut : (Al-Qur’an Digital Versi.2.0):
1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5. Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
6. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

7. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.

8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.
Zakat harus diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan, dengan kata lain zakat menjaga konsumsi masyarakat pada tingkat minimal, memelihara kemampuan daya beli masyarakat sehingga perekonomian dapat terus berjalan, pasar masih selalu tersedia bagi produsen untuk memberikan penawaran yang dalam jangka panjang dapat menjaga kelangsungan sektor usaha.
● Menekan jumlah permasalahan sosial (Ali Sakti, Modul Temilnas 2003), mekanisme zakat yang terdistribusikan dengan baik dapat memperkecil jurang kemiskinan, menekan jumlah permasalahan sosial seperti pengangguran, pelacuran, gelandangan, pengemis dll, yang dalam jangka panjang dapat ikut serta berkontribusi dalam meningkatkan stabilitas keamanan wilayah perekonomian sektor usaha.
● Maksimalisasi zakat secara otomotis memaksimalkan keuntungan. Zakat hendaknya dijadikan indikator dan tujuan utama dalam usaha, logika yang dipakai dalam ekonomi islam sangat sederhana, jika zakatnya banyak pasti untungnya banyak. dikarenakan zakat diambil dari keuntungan harta yang diputar, maka tidak ada ruginya untuk menjadikan zakat sebagai tujuan utama dalam berusaha.
● Meningkatkan citra perusahaan. Zakat yang diberikan kepada masyarakat akan membuat masyarakat tersentuh, masyarakat akan memberikan kesan positif terhadap perusahaan yang melakukannya. sehingga secara tidak langsung hal tersebut bisa menjadi salah satu media promosi dan juga sebagai upaya pelaksanaan tanggung jawab atau CSR (corporate social responsibility) perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

itulah beberapa alasan kenapa kita harus memakai istilah zakat maximizer daripada profit maximizer, agar kita selalu ingat bahwa segala usaha yang kita lakukan diniatkan untuk banyak-banyak berzakat dan tidak hanya menumpuk kekayaan semata dari keuntungan usaha yang diperoleh. By : Wan’s.

June 27, 2008 at 1:47 pm Leave a comment

Antara modal usaha, jalannya sistem bunga dan prospek bagi hasil

Sejak naiknya harga BBM lebih dari seratus persen banyak kegiatan usaha skala menengah mengalami keterpurukan, banyak hal yang menyebabkannya selain naiknya harga kebutuhan pokok sedikit-sedikit dan kurangnya daya beli masyarakat juga disebabkan tingginya suku bunga kredit yang ditawarkan perbankan konvensional, yang membuat pelaku usaha tidak berani mengajukan pinjaman kredit karena khawatir gagal bayar. Potensi gagal bayar semakin besar mengingat daya beli masyarakat menurun drastis akibat inflasi tinggi (kompas, 26/10/05).ini baru ketika naiknya BBM belum ketika TDL (tariff dasar listrik) juga dinaikkan.

Hal ini yang memberikan fakta kepada kita bahwa kebanyakan pelaku usaha selain karena factor kebijakan diluar dirinya adalah kurangnya akses terhadap modal. Tingkat suku bunga pinjaman yang tinggi membuatnya takut, khawatir akan ketidakmampuanya dalam membayar pinjaman yang telah disepakati. Kucuran modal usaha sebagai darah segar dalam menghidupi setiap nadi pelaku usaha tidak bisa diakses secara mudah. Padahal bank ataupun lembaga keuangan sejenis sebagai lembaga intermediary (perantara) yang menyambungkan antara pemilik dana dan pengolah dana harusnya bisa berfungsi secara maksimal, banyak memberikan kontribusi kemitraan khususnya dalam masalah dana yang tidak memberatkan pelaku usaha sebagai pihak yang mengelola usaha.

Secara wajar bisa dimaklumi kekhawatiran kedua belah pihak, pihak bank mau meminjamkan dananya jika pelaku usaha mau menyepakati tingginya tingkat suku bunga pinjaman yang akan diberikan tidak mau tahu rugi, impas ataupun untung, ketika pinjaman dan suku bunganya sudah disepakati di waktu yang telah ditentukan pelaku usaha harus mengembalikan uang pinjamannya tentunya dengan bunga yang tercantum dan telah disepakati di waktu yang telah dijanjikan. Jika tidak, lebih baik dipinjamkan kepada sektor usaha besar, ataupun dalam permainan saham dan valuta asing atau hanya diputar ke sektor keuangan lainnya yang tentunya memiliki return lebih besar daripada usaha kecil menengah yang belum jelas untung ruginya. Sedangkan pelaku usaha tentunya takut untuk meminjam dikarenakan kesepakatan yang terjadi dengan keuntungan yang belum bisa dipastikan, dengan system yang harus memastikan kesepakatan bunga di awal, padahal kita tahu resiko sebuah usaha yang dilaksanakan belum jelas untung dan ruginya. Untuk itu bagi sector usaha skala kecil dan menengah kekhawatirannyapun bisa dimaklumi karena usaha yang dilakukan belum bisa memprediksi ataupun sekedar mengira-ngira kapan untungnya, sekedar berjalan saja asal mampu menghidupi kehidupan seharian makan dan minum saja sudah bersukur apalagi lebih.

Lemahnya sistem bunga

Dalam banyak literature ekonomi konvensional diterangkan bahwa bunga sebagai harga modal (price of capital), selanjutnya dalam literature ekonomi moneter banyak disebutkan bahwa tinggi rendahnya permintaan dan penawaran akan uang tergantung pada tingkat bunga (Hendrianto, Ekonomi mikro islami,hal.239,2003). Anggapan bahwa uang sebagai harga modal menjadikan bunga yang merepresentasikan pendapatan uang dianggap sebagai harga uang, hal tersebut muncul akibat adanya pandangan tentang samanya uang dengan barang, sehingga tidak mustahil jika ini berakibat pada diputarnya uang hanya disektor uang, apalagi instrumen keuangan yang berkembang saat ini memungkinkan untuk melakukannya.

Anggapan para pemikir konvensional bahwa uang hari ini lebih berharga daripada uang hari esok membuat nominal nilai riil dari uang harus tetap dan seiring dengan berjalannya waktu bahkan harus terus bertambah. Hal inilah yang membuat system bunga menetapkan nominal di awal tanpa melihat resiko yang terjadi dalam sebuah usaha. Sehingga disinilah terjadi ketimpangan pemahaman, yang pada akhirnya menyebabkan ketidakadilan hanya menguntungkan salah satu pihak. Jika usaha yang diputar dengan modal pinjaman bisa menghasilkan untung yang besar mungkin tidak terlalu memberatkan tapi jika impas atau rugi, logika mana yang mengatakan bahwa ini adalah keadilan? Sudah pastikah sebuah usaha menghasilkan keuntungan sesuai dengan yang diharapkan? Jika ada faktor lain diluar kemampuan manusia, siapakah yang disalahkan? Hanya karena kebijakan yang dibuat manusia saja, sektor usaha kecil dan menengah tidak bisa berbuat banyak. Disinilah jalanya sistem bunga perlu ditinjau ulang, karena dilihat dari logika investasi saja tidak mempertimbangkan resiko yang akan terjadi, apalagi jika dilihat dari faktor lainnya.

Menarik apa yang telah disebutkan oleh Sadeq tentang dampak negative bunga (1992, p.281-282,dalam M.B Hendrianto p.241,2003) ia menyebutkan: Pertama, bunga merupakan suatu bentuk ketidakadilan (injustice/dzalim) sebab ia memberikan diskriminasi terhadap pembagian resiko maupun hasil. Para pemodal hanya menerima hasil dan tidak berbagi resiko (risk sharing), sementara para peminjam dana harus membayar suatu tambahan tetap atas modal yang dipinjamnya meskipun dalam keadaan merugi. Kedua, system bunga akan membatasi investasi. Tingginya tingkat bunga berhubungan negatif dengan tingginya investasi, semakin tinggi tingkat bunga akan semakin rendah investasi. Tingkat bunga yang tinggi akan mengurangi minat masyarakat untuk berinvestasi, sebab biaya dana (cost of fund) menjadi lebih mahal. Kegiatan investasi akan berhenti manakala tingkat return on investment tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan tingkat bunga, berada dibawah atau sama dengan tingkat bunga Ketiga, dalam faktor produksi bunga dimasukkan ke dalam unsur biaya sehingga akan meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan. Peningkatan biaya produksi ini dengan sendirinya akan meningkatkan harga output, yang akhirnya juga akan menjadi beban yang diterima oleh konsumen. Beban biaya bunga sesungguhnya kemudian digeserkan dari produsen ke konsumen.

Jika dirunut secara lebih dalam, hal ini akan memicu pada berbagai bentuk kejahatan sosial dan ekonomi masyarakat, secara langsung dapat dipahami seorang yang meminjam uang untuk sektor usaha jika ia impas atau lebih parah lagi rugi dan ia dituntut untuk membayar sejumlah uang dengan bunga yang tertera tanpa mampu untuk mengembalikannya ia akan mencari celah kesana kemari, jual sawah, perhiasan istrinya bahkan rumahnya untuk memenuhi kesepakatan yang telah dijanjikan karena ketakutan akan blacklist dari pihak yang meminjamkannya. Dan pihak peminjam uang tentunya akan dengan nyaman sambil menyalakan sebuah rokok duduk di kursi di atas sofa halus sambil menonton tivi menunggu uang datang di pangkuannya. Tanpa harus bersusah payah untuk berusaha.

Prospek bagi hasil

Disinilah sebenarnya peluang sistem bagi hasil untuk membantu usaha kecil menengah dalam hal bantuan pinjaman dana. System bagi hasil atau loss-profit sharing atau bagi untung rugi memiliki banyak perbedaan dengan system bunga yang menjadi ciri khas keuggulannya, perbedaan yang paling penting adalah soal apakah resiko dan keuntungan bisa dibagi bersama antara pemilik modal dengan peminjam ataukah tidak.

Dalam system bunga, tingkat bunga yang sudah ditetapkan diawal harus dibayarkan oleh peminjam tanpa peduli dana yang dimanfaatkan itu mendapat keuntungan atau kerugian. Tingkat bunga ditetapkan pada pasti tidaknya kesepakatan awal pinjaman dibuat dengan prosentase tertentu dari nilai pokok pinjaman. Besar kecilnya bunga yang ditetapkan tidak akan mengalami perubahan hingga pelunasan pinjaman. Suatu hal yang memberatkan bagi pelaku usaha yang belum bisa memprediksi apakah usaha yang dilakukan bisa menguntungkan ataukah mengalami kerugian.

Perbedaan dengan system bagi hasil (loss-profit sharing) adalah tidak ditentukannya suatu perolehan yang telah ditetapkan dan pasti (fix and predetermined) tanpa melihat resiko yang dihadapi sebagaimana dalam bunga. Tetapi ditentukan proporsi loss and profit sharing berdasar kontribusi masing-masing pihak dan produktifitas nyata dari dana yang disalurkan dengan mempertimbangkan prospek perolehan keuntungan (expected return) ataupun tingkat resiko yang mungkin terjadi. Nilai nominal dari dana yang disalurkan akan dapat diketahui setelah usaha dijalankan dan dana yang disalurkan benar-benar memberikan kontribusi nyata dalam sebuah usaha. Dan proporsi bagi hasil yang dibagikan bukan dari nilai pokok pinjaman tetapi dari keuntungan yang diperoleh, tidak sebagaimana system bunga yang mengukur bagian prosentase dari nilai pokok pinjaman, karena hal tersebut akan sangat memberatkan pengelola dana pinjaman. Sehingga secara logis lebih bisa memberikan keadilan kepada kedua belah pihak yang bersepakat tanpa ada yang merasa terdhzalimi, karena disamping system bagi hasil diatas ada syarat yang harus dipenuhi oleh kedua pihak yakni kejujuran dan transparansi (keterbukaan) tidak boleh berkhianat setelah disepakati, terbuka, tanpa harus menutup-nutupi keuntungan yang diperoleh. Terjadi kelegaan dan rasa saling meridhoi (merelakan) antara pihak yang bersepakat. By : Wan’s

June 22, 2008 at 12:40 pm Leave a comment

Melihat kembali hakikat pengetahuan dan agama

Titik awal paradigma sekularisasi, fragmentasi dan kebebasnilaian pengetahuan

Sekitar abad ke-16 masehi gereja mendominasi peran dari pengambilan ilmu pengetahuan. Segala keputusan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan diambil alih oleh gereja, tidak ada peran yang lebih tinggi selain dominasi gereja pada masa itu. Sehingga keputusan tertinggi ada ditangan gereja tidak ada yang dapat menentangnya, jika ada yang menentang gereja maka ia akan dieksekusi oleh pihak gereja1. Padahal dogma yang dipegang dan diajarkan oleh tokoh-tokoh gereja pada abad tersebut jelas-jelas bertentangan dengan fakta-fakta yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan. Disinilah terjadi revolusi besar-besaran yang dipimpin oleh para tokoh untuk menentang gereja. Sebuah gerakan yang menolak peran apapun dari wahyu dalam mengatur urusan-urusan manusia, menyerahkan segala yang terkait dengan urusan manusia pada kekuatan dan kemampuan akal untuk membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan salah, antara yang adil dan tidak adil.

Sehingga mereka mengajukan pendekatan hedonis dari utilitarianisme sebagai suatu alternatif. Benar dan salah ditentukan oleh kriteria yang dapat diukur berdasarkan”rasa nyaman” dan ”rasa sakit”. Pendekatan ini telah meratakan jalan bagi diperkenalkanya falsafah darwinisme sosial, materialisme, dan determinisme dalam ilmu ekonomi dan ilmu-ilmu sosial lainnya.(lihat Chapra, dalam Masa DepanIlmu Ekonomi hal.17-18).

Dari sinilah titik tolak terjadinya arus sekularisasi besar-besaran di Eropa hampir di setiap bidang tak terkecuali ilmu pengetahuan. Mereka mengeluarkan landasan agama, landasan ketuhanan, landasan nilai-nilai dan norma dari arus pemikiran pengetahuan mereka.

Karena itu lahirlah ilmu pengetahuan yang bersifat positivistik. Hanya menjelaskan fakta-fakta secara apa adanya.Pertanyaaan normatif “what should?”, “what best?” yang mempertanyakan apa yang terbaik dan yang seharusnya dilakukan dikesampingkan(lihat Adiwarman A.Karim, dalam Ekonomi Mikro Islami, hal. 42).

Dari paradigma diataslah ilmu pengetahuan dibangun, termasuk ilmu yang sekarang banyak tersebar di kampus-kampus. Sehingga bukan menjadi sebuah kemustahilan ketika banyak kita dapati kekeringan-kekeringan jiwa walaupun pengetahuan kita sudah dianggap tinggi karena kuliah, ataupun sudah banyak yang berpangkat sarjana. Ilmu yang sekarang kita pelajari, banyak mengesampingkan variabel-variabel norma, variabel nilai-nilai selain ekonomi, bahkan variabel keagamaan dikesampingkan jauh-jauh karena dianggap tidak relevan dan kuno.

Membangun paradigma sains diatas landasan agama

Pertentangan antara akal, wahyu dan langkah integrasi keduanya

Secara sekilas, kita banyak dapati pertentangan antara akal dan wahyu, antara sains dan wahyu.Wahyu yang diturunkan oleh Tuhan tidak selamanya bisa diterima oleh akal. Perkembangan ilmu pengetahuan kadang bertentangan dengan wahyu, sehingga seolah hal tersebut bertentangan dan bertolak belakang. Padahal jika dikaji lebih lanjut kita akan banyak menemukan Hikmah dibalik apa yang telah diwahyukan Allah dan Rosulnya(baca lebih lanjut karangan Harun Yahya).

Chapra mengungkapkan dalam bukunya bahwa sains dan agama berbicara tentang dua tingkatan realitas yang berbeda. Pertama, berbicara tentang jagad raya fisik yang dapat diraih oleh pancaindra manusia, sementara yang kedua, berbicara tentang tingkatan realitas yang lebih tinggi yang bersifat transedental dan di luar jangkauan pengalaman indra. Lebih lanjut ia menjelaskan :

“…….Sains sangat menggantungkan manusia terutama akal, dan mencoba mendapatkan pengetahuan melalui observasi dan eksperimen; ia mencoba melakukan deskripsi dan analisis “apa” ia harus dapat melakukan prediksi apa yang kan terjadi di masa depan. Ketika sains berbicara tentang jagad raya fisik, maka deskripsi dan analisisnya lebih pasti dan prediktifnya lebih besar. Namun manakala ia berbicara tentang manusia, makhluk yang tidak selalu berperilaku standar seringkali tidak akurat. Berbeda dengan agama, yang bergantung pada wahyu dan akal dalam pengetahuannya. Tujuan utamanya untuk membantu mentransformasikan kondisi manusia dari “apa” kepada kondisi ideal atau “apa seharusnya”…….”(Chapra, hal.71)

Untuk itulah sebenarnya wahyu diturunkan membimbing manusia untuk bertindak “apa yang seharusnya” dilakukan. Agama difungsikan untuk menjaga manusia keluar dari batas orbit yang telah ditentukan. Karena bagaimanapun juga manusia memiliki keterbatasan dari apa yang dimiliki. Dan sains seharusnya tetap berpijak pada pandangan agama, membantu agama untuk menganalisis pengetahuan yang lebih baik tentang “apa yang seharusnya”. Pertentangan antara agama dan sains akan terjadi, jika sains tidak menghormati kontribusi ajaran-ajaran moral dan transedental yang dapat disumbangkan kepada kebahagiaan manusia. Begitu juga dengan agama, akan terjadi konflik ketika agama membuat pernyataan yang irasional dan sulit diterima oleh sains. Dan sikap yang seharusnya dilakukan adalah ketika akal sudah tidak lagi sampai untuk mencapai wahyu, maka wahyu dikedepankan, kemudian akal diajukan. Memaksimalkan potensi akal untuk menggali dibalik apa yang ditetapkan Allah. Bukankah akal digunakan untuk berfikir, dan dalam berpikir akalpun memiliki keterbatasan…?

Dalam sejarah perkembangan Muslim, ketika umat islam mencapai zaman keemasan ilmu pengetahuan pernah terjadi gerakan rasionalis2. Namun gerakan tersebut tidak mempertentangkan antara sains dan wahyu; karena hal ini tidak mungkin terjadi karena sikap positif islam terhadap sains dan metode ilmiah. Konflik itu terjadi antara wahyu dan spekulasi filsafat.(lebih lanjut baca: Mehdi Nakosten, Kontribusi muslim atas dunia pemikiran barat; Chapra, Masa depan ilmu ekonomi hal.73-86).

Integrasi pengetahuan dan agama

Dari keterangan diatas jelaslah, bahwa pengetahuan yang mengedepankan akal dalam berobservasi tidak bisa dipisahkan dari agama, begitu juga agama tidak bisa dipisahkan dari ilmu pengetahuan, keduanya dapat terjalin hubungan erat. Allah telah menganugerahkan manusia dengan akal yang merupakan alat untuk memahami dunia, dan untuk memenuhi segala kebutuhannya juga untuk mendukung posisinya sebagai khalifah. Sementara itu, wahyu merupakan sarana untuk menuntun manusia terhadap segala pengetahuan tentang tujuan hidupnya, dengan demikian sebenarnya akal dan wahyu saling melengkapi satu sama lainnya dan sangat berguna bagi kehidupan manusia. Sejarah telah membuktikan bahwa integrasi keduanya pernah membentuk satu peradaban yang menakjubkan, serta saling menguat satu sama lain. Selama kurun waktu tersebut peradaban Islam menyinari dunia, termasuk barat. (Hendri anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami, hal.19).

1 hal ini terjadi ketika Copernicus menggugat dogma gereja yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan matahari berputar mengelilingi bumi. Karena ilmuwan berpegang teguh pada hasil fikirnya, mereka mengalami eksekusi oleh gereja. Di antaranya Bruno, Galileo Galilei, dll

2 gerakan rasionalis adalah sebuah gerakan pencerahan yang mengedepankan akal. Menjadikan konflik antara wahyu dan spekulasi filsafat. Kaum rasionalis pada waktu itu terdiri dari dua golongan sarjana yang memiliki latar belakang intelektual berbeda. Kedua golongan itu adalah Mu’tazilah dan kaum filosof (falasifah)

June 22, 2008 at 11:59 am 1 comment

Gaya hidup syari’ah

Membicarakan gaya hidup, ia menyangkut banyak hal yang terkait dengan perilaku dan aktivitas seseorang dalam lingkungannya yang terkadang karena kebiasaan aktivitas tersebut menyebar hingga terjadilah sebuah budaya yang mempengaruhi banyak orang untuk mengikutinya. Gaya hidup mencerminkan kepribadian seseorang, gaya hidup menjadi standar nilai bagi seseorang untuk mengatasnamakan baginya sesuatu, Sehingga gaya hidup yang dianggap bernilai tinggi adalah gaya hidup yang mengapresiasi (untuk tidak menyebut “mengekor”) nilai modernitas yang kadang kebablasan dan tidak berpijak. Saat ini gaya hidup banyak dicerminkan dari cara berpakaian apakah modis atau tidak, fashionabel atau tidak. Gaya hidup juga banyak dilihat dari bagaimana seseorang makan, menggunakan kendaraan mewah atau tidaknya, tempat rekreasi yang dikunjungi luar negeri atau tidak, tempat makan yang didatangi menyajikan makanan istimewa atau biasa saja bahkan cara berjalanpun dianggap sebuah gaya hidup. Gaya hidup mengendap pada hampir setiap apa yang dilakukan manusia sejak bangun hingga tidur, hingga bangun dan tidur lagi dan begitulah seterusnya sampai menemukan sesuatu yang menjadi cermin bagi gayanya sendiri. Lalu, bagaimanakah sebenarnya gaya hidup didefinisikan…?

gaya hidup merupakan perilaku yang mencerminkan nilai dan tingkah laku seseorang.

a manner of living that reflects the person’s values and attitudes (http://wordnet.princeton.edu/perl/webwn?s=lifestyle).

Ia juga merupakan pola kehidupan seseorang yang dituangkan dalam bentuk ketertarikan, motivasi, aktivitas, pengalaman keingintahuan dan kepercayaan atau keimanan.

……….A persons pattern of living as expressed by their interests, motivations, activities, desired experiences, and beliefs. (http://www.cnr.uidaho.edu/travelerstudy/definitions.htm).

Ada juga yang mengatakan bahwa gaya hidup adalah cara hidup yang dipilih seseorang atau kelompok.

…………….way of life chosen by a person or agroup (www.actewagl.com.au/education/Glossary/default.aspx).

Terlepas dari berbagai definisi tentang gaya hidup ia secara tidak langsung dipengaruhi oleh pandangan seseorang dan juga pola pikir tentang apa yang dijalaninya. Oleh karena itu, berbagai ajaran, idealisme, nilai moral dan norma menjadi tempat ia berjalan melambungkan gaya hidup yang diinginkannya. Maka, jika kita menanyakan bagaimanakah sebenarnya gaya hidup syari’ah? ia adalah sekumpulan nilai-nilai, perilaku, ketertarikan, motivasi, cara hidup seseorang, dan keimanan seseorang yang didasarkan pada syari’ah. Klo di terjemahkan ke bahasa inggris ya kurang lebih begini.

…..syari’ah lifestyle is set of values, attitudes, interests, motivations, way of life, and belief conducted by person based on syari’ah values.

Syari’ah telah mengajarkan banyak hal tentang gaya hidup sejak manusia dilahirkan sampai dimatikan, sejak manusia tidur hingga bangun, sejak manusia ingin beraktivitas. mulai cara makan, minum, berpakaian, cara berjalan, menyapa orang lain, bersilaturrohmi, cara tidur, memilih tempat, bahkan sampai pergi ke toiletpun Syari’ah mengajarkan sesuatunya dengan detail sampai pada cara pandang yang mempengaruhi seseorang dalam mengambil kebijakan. Sehingga pengaruh syari’ah seharusnya menyentuh pada setiap aspek kebijakan baik itu ekonomi, politik, hukum ataupun sosial dan budaya. Gaya hidup syari’ah menjadi cermin yang menggambarkan seseorang. Ia seharusnya menjelma, menelisik kedalam jiwa seseoarang yang mempengaruhi segala tingkah laku dalam setiap aktivitas yang dilakukannya.

Ketika berpakaian syari’ah selalu mengajarkan gaya hidup berpakaian untuk menutup auratnya baik bagi wanita ataupun lelaki, ketika berkonsumsi tidak boleh terlalu kikir dan juga tidak boleh berlebihan, sekaligus tidak boleh memakan hal-hal yang diharamkan, mengharuskan makan hal-hal yang dihalalkan dan dinilai thayyib (menyehatkan, bergizi dan lezat), meninggalkan riba’, selalu menyisihkan sebagian kelebihan harta yang kita miliki untuk yang lebih membutuhkan, cara tidurpun sudah dianjurkan untuk bergaya sesuai dengan yang dianjurkan. Dalam hal ini semua, Rasululloh Muhammad saw telah diturunkan untuk menjadi figur, menjadi pedoman nyata bagaimana beliau bertingkah laku yang patut dijadikan guru …digugu dan ditiru. Jadi, tunggu apalagi mari kita gali referensi yang bersumber dari Sang Nabi, Al-Qur’an Suci dan Hadits Nabi agar kita ngetrend kembali.

June 22, 2008 at 9:39 am Leave a comment

Older Posts


Posting Terbaru

Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.